Blangikhan atau belangiran merupakan salah satu tradisi adat yang dimiliki masyarakat Provinsi Lampung dan rutin dilaksanakan untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan.
Dilansir laman Nu Online, Blangikhan adalah prosesi adat berupa mandi bersama yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini bertujuan untuk menyucikan diri secara jasmani dan rohani, membersihkan hati, serta mempererat tali silaturahmi antar warga.
Tak hanya sekedar ritual seremonial, prosesi ini memiliki sejarah panjang dan makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Lampung. Penasaran dengan asal-usul dan makna dibalik tradisi Blangikhan?
Berikut infoSumbagsel merangkum sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi adat tersebut.
Tradisi Blangikhan adalah prosesi adat masyarakat Provinsi Lampung yang dilakukan untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Tradisi ini memiliki makna sebagai simbol penyucian diri sebelum menjalankan ibadah puasa.
Blangikhan berasal dari kata langir, yang artinya mandi. Namun, mandi dalam tradisi ini bukanlah mandi biasa, melainkan sebuah ritual adat yang menggunakan perlengkapan khusus seperti air langir, bunga tujuh rupa, daun pandan serta setanggi dengan makna spiritual dan simbol kesucian.
Pelaksanaannya diawali dengan prosesi arak-arakan dengan melintasi jalan utama dan diikuti dengan ritual mandi bersama. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk penyucian diri, tapi juga dijadikan sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi serta menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Lampung.
Tradisi Belangiran atau sering disebut dengan Blangikhan bermula dari kebiasaan masyarakat Lampung melakukan langir atau mandi sebagai bentuk penyucian diri. Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi ritual adat yang lebih terstruktur, lengkap dengan perlengkapan khusus dan prosesi sakral serta dipimpin oleh tokoh adat.
Kehadiran ritual mandi sebelum Ramadan dilakukan oleh masyarakat Lampung sejak zaman nenek moyang dan masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi ini juga mulai berkembang seiring dengan masuknya ajaran Islam ke wilayah Lampung dan kemudian berakulturasi dengan adat istiadat setempat.
Tradisi yang telah ada sejak masa leluhur ini akhirnya mendapatkan perhatian yang lebih luas. Pada tahun 2019 pemerintah mulai meresmikan Blangikhan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Lampung dalam kategori adat istiadat, ritual, dan perayaan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Tradisi Blangikhan memiliki makna utama sebagai simbol dan bentuk penyucian diri secara jasmani dan rohani bagi masyarakat Lampung sebelum memasuki Ramadhan.
Ritual ini melambangkan kesiapan spiritual bagi setiap individu untuk menjalankan ibadah puasa, dengan hati yang bersih, niat yang tulus serta menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat mengotori kesucian bulan Ramadhan.
Kehadiranya sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi, kebersamaan masyarakat, sehingga mencerminkan nilai persatuan dan keharmonisan dalam kehidupan sosial masyarakat Lampung.
Tradisi ini juga mengajarkan betapa pentingnya menjaga kesimbangan antara nilai agama, adat istiadat, dan kehidupan sosial, sehingga tetap relevan dan bermakna bagi generasi masa kini dan mendatang.
Dikutip jurnal berjudul Ritual Penyucian Diri dalam Tradisi Belangiran dalam Menyambut Suci Ramadhan Sebagai Ritual Keagamaan Masyarakat Islam Indonesia oleh Nana, tradisi Blangikhan dilaksanakan melalui serangkaian tahapan adat sebagai bentuk penyucian diri secara lahir dan batin.
Prosesi ritual diawali dengan persiapan oleh masyarakat adat dan pemangku adat setempat baik dari perlengkapan ritual maupun penentuan waktu dan lokasi pelaksanaan. Umumnya dilakukan di sungai atau sumber air yang dianggap bersih dan sakral.
Sebelum ritual dimulai, semua peserta dikumpulkan untuk mengikuti doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan. Selanjutnya, para pemangku adat atau pejabat setempat akan memulai dan memimpin prosesi pemandian ini dengan menggunakan lengir yang dicampur dengan bunga tujuh rupa, daun pandan serta beberapa bahan lainnya yang memiliki makna simbolis penyucian diri.
Proses pemandian dilakukan secara bergantian oleh masyarakat. Setelah selesai, kegiatan biasanya ditutup dengan doa dan kebersamaan antar warga sebagai wujud rasa syukur serta penguatan nilai sosial dan budaya dalam masyarakat Lampung.
Nah, itulah penjelasan singkat yang bisa infoSumbagsel rangkum tentang Tradisi Blangikhan Lampung, Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker info.com
