Tiga anak buah kapal (ABK) Tongkang Tirta Samudra 3 yang tewas akibat keracunan gas di ruang palka akhirnya berhasil dievakuasi tim SAR gabungan. Petugas butuh waktu 4 jam untuk mengevakuasi korban dari ruang penyimpanan muatan kapal tersebut.
“Proses evakuasi ketiga korban (keracunan gas) yang dilakukan oleh tim SAR gabungan memakan waktu hingga 4 jam. Korban terakhir dievakuasi pukul 19.17 WIB, (Sabtu),” jelas Kepala Basarnas Bangka Belitung (Babel) I Made Oka Astawa kepada infoSumbagsel, Minggu (31/8/2025).
Lokasi evakuasi para korban dilakukan di perairan Tanjung Berikat, Bangka Tengah, sesuai dengan kesepakatan bersama nahkoda. Proses evakuasi menggunakan system lowring dan lifting yakni untuk turun serta pengangkatan korban ke atas.
Oka menjelaskan, sebelum proses evakuasi dilakukan, Tim Inafis Polda Babel terlebih dahulu melakukan olah TKP dan meminta keterangan kepada para ABK Kapal tersebut. Tapi, saat proses evakuasi tim mengalami hambatan.
“Dalam proses evakuasi, rescuer yang turun mengalami kesulitan ketika mengangkat korban yang telah dipasangkan fullbody harness. Kondisi tubuh korban mulai membengkak serta berminyak akibat sisa minyak CPO di dalam palka tersebut,” terangnya.
Untuk diketahui, tongkang ini bermuatan minyak COP ditarik Kapal Medevac TB Bintang Mutiara XXX dari Pelabuhan Wilmar Serang tujuan Batam. Jenazah ketiga korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Babel.
“Operasi SAR ini kemudian resmi ditutup. Terima kasih kepada seluruh unsur SAR Gabungan yang terlibat dalam proses evakuasi terhadap ketiga ABK. Semoga sinergitas ini dapat tetap terjalin demi pelayanan terbaik untuk keselamatan masyarakat,” tutupnya.
Kapal TB Bintang Mutiara XXX tersebut berangkat pada pada 24 Agustus 2025. Ketiga korban tewas berinisial IW (49), IS (29) dan LM (29). Peristiwa bermula saat korban LM hendak mengecek palka atau penyimpanan muatan.
“Kejadian bermula ketika ABK inisial LM mencoba turun ke palka untuk melakukan pemeriksaan palka, namun tiba-tiba pingsan. Rekannya IS yang melihat, mencoba membantu namun juga pingsan di dalam palka tersebut,” terangnya.
Kejadian yang menimpa korban dilihat oleh dua ABK lainnya dari atas kapal. Namun, satu orang ABK inisial IW meskipun telah dilarang tetap turun hingga peristiwa itu juga dialami korban ketiga.
“Selanjutnya, korban IW mengetahui hal tersebut langsung berusaha melakukan penyelamatan namun mengalami hal yang sama di dalam palka tongkang,” sambungnya.
Rekan korban kemudian melaporkan kepada nakhoda TB Bintang Mutiara XXX. Kapal lego jangkar di perairan laut Bangka Selatan untuk mengecek kondisi para ABK.
“Namun ketiga korban sudah terlihat tidak bernyawa di dalam palka tersebut. Nakhoda kapal melaporkan kejadian tersebut ke Kansar Pangkalpinang untuk meminta bantuan Evakuasi,” tutupnya.
“Tiga ABK yang terjebak di dalam palka diduga mengalami keracunan gas dan mengakibatkan meninggal dunia,” tambahnya.