Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Integrated Terminal (IT) Pangkal Balam menginisiasi program kemitraan lingkungan berupa Pelatihan Budidaya Anggrek Cerdas Iklim pada Kamis (28/08).
Program ini menghadirkan Muslimin, pengelola sekaligus pemilik Bukit Kejora Nursery, sebagai narasumber utama yang membawa pengalaman lebih dari lima dekade dalam budidaya anggrek sejak tahun 1970-an.
Bukit Kejora Nursery, yang telah berdiri lebih dari 20 tahun, telah memantapkan reputasinya sebagai pusat pembibitan dan pengembangan tanaman hias, khususnya anggrek. Selain menjadi destinasi bagi para kolektor dan penikmat anggrek untuk membeli dan melihat koleksi, Bukit Kejora Nursery juga berkembang menjadi pusat pembelajaran melalui program magang yang menarik minat dari berbagai kalangan, mulai dari pemula hingga profesional di bidang hortikultura.
Pelatihan yang diselenggarakan ini berhasil menarik partisipasi 37 peserta dari berbagai latar belakang, yang terdiri Pekerja Harian Lepas Kebun Raya Tuatunu, mahasiswa dan dosen Universitas Bangka Belitung, dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkalpinang.
Materi pelatihan dirancang untuk menghadapi tantangan iklim yang beragam, mencakup strategi budidaya dan perawatan anggrek yang adaptif terhadap kondisi musim kemarau, hujan intensif, dan masa pancaroba.
Muslimin menjelaskan secara detail bagaimana perubahan iklim membuat anggrek semakin rentan, di mana suhu ekstrem dapat menyebabkan stres fisiologis, daun menguning, dan kegagalan pembungaan, sementara hujan berlebihan meningkatkan risiko infeksi jamur dan penyakit, sedangkan kemarau panjang mengakibatkan dehidrasi dan pelayuan bunga prematur.
Para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga terlibat dalam praktik langsung penanaman dan pemindahan anggrek untuk memastikan penguasaan teknik yang tepat. Pelatihan ini menerapkan pendekatan evaluatif langsung yang dilakukan Muslimin terhadap kondisi eksisting konservasi anggrek di Kebun Raya Tuatunu.
“Saya mengidentifikasi berbagai aspek yang memerlukan perbaikan mendesak, mulai dari optimalisasi teknik penanaman dan metode pembibitan hingga rekonfigurasi ruangan konservasi yang saat ini terlalu kedap udara dan kurang sirkulasi. Perbaikan-perbaikan ini sangat krusial untuk menciptakan ekosistem mikro yang lebih kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anggrek, sehingga diharapkan dapat mengembalikan produktivitas berbunga koleksi yang ada,” jelasnya, dalam keterangan resmi yang diterima infoSumbagsel.
Perwakilan DLH Kota Pangkalpinang, Winda, memberikan apresiasinya atas inisiatif Pertamina yang mendukung upaya konservasi tanaman langka di wilayah Bangka Belitung.
“Pelatihan ini sangat sejalan dengan visi kami dalam melestarikan keanekaragaman hayati lokal, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Diharapkan kolaborasi ini dapat berkelanjutan, sehingga dapat menjadi contoh daerah yang berhasil mengintegrasikan industri dengan pelestarian lingkungan,” katanya.
Salah satu peserta pelatihan, Bobi, yang mengungkapkan apresiasinya atas pelatihan yang diberikan, sehingga memiliki pemahaman baru dalam mengembangkan budidaya anggrek, yang sebelumnya hanya dipelajari melalui otodidak.
“Ketika cuaca tidak mendukung, kami sering kebingungan menentukan langkah yang tepat. Pelatihan ini benar-benar membuka wawasan baru, karena kami dapat praktik langsung bersama ahlinya dan mendapat evaluasi komprehensif terhadap lokasi konservasi kami. Kami berharap dengan penerapan teknik-teknik baru ini, anggrek di Kebun Raya Tuatunu dapat kembali berbunga dengan optimal,” ungkap Bobi.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan manifestasi konkret komitmen Pertamina terhadap keberlanjutan konservasi hayati dan pembangunan berkelanjutan.
“Pelatihan ini tidak sekadar memberikan manfaat teknis operasional, tetapi secara strategis memperkuat peran vital Kebun Raya Tuatunu sebagai pusat edukasi dan konservasi keanekaragaman hayati. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat berkontribusi nyata dalam menjaga kelestarian flora Indonesia sambil meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan konservasi yang berkelanjutan di era perubahan iklim,” ungkap Rusminto.