Dinas Perdagangan Kota Palembang membeberkan sejumlah faktor pemicu anomali harga bahan pokok pasca-tahun baru. Saat harga cabai dan bawang mulai melandai karena penurunan permintaan, komoditas protein hewani seperti ayam dan ikan justru tetap bertahan tinggi akibat pengaruh program nasional hingga kendala distribusi logistik.
Kepala Bidang Stabilitas dan Sarana dan Distribusi (SSDP) Dinas Perdagangan Kota Palembang, Elsa Noviani, menjelaskan bahwa tingginya harga ayam ras dan telur di pasar saat ini berkaitan erat dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tingginya permintaan protein untuk program tersebut membuat harga sulit turun ke level normal.
“Semenjak MBG dilaksanakan, telur dan ayam memang susah turun di angka Rp 30.000. Permintaan sangat tinggi karena program tersebut banyak menggunakan lauk ayam dan telur. Selain itu, faktor pakan ayam yang mahal dan cuaca buruk juga mempengaruhi produksi di tingkat peternak,” ungkap Elsa, Kamis (8/1/2026).
Sebagai langkah pengendalian inflasi akibat permintaan MBG yang masif, Elsa menyebutkan bahwa Pemerintah Kota bersama Bank Indonesia (BI) telah merancang solusi strategis berupa pengaturan jadwal menu lauk di Dapur MBG se-Sumsel.
“Solusi dari BI, jadwal lauk diatur agar tidak menumpuk di satu komoditas. Misalnya, Senin dan Selasa menggunakan bahan baku ikan, Rabu dan Kamis baru boleh ayam dan telur, sedangkan Jumat menu makanan kering. Ini salah satu upaya agar permintaan tidak melonjak di satu waktu yang memicu kenaikan harga,” jelasnya.
Terkait kenaikan harga ikan yang melambung, ia menuturkan bahwa faktor cuaca ekstrem menjadi penghambat utama, terutama untuk ikan laut seperti ikan kembung yang pasokannya banyak didatangkan dari luar daerah seperti Pulau Jawa.
“Distribusi terhambat banjir dan antrean solar yang panjang bagi armada pengangkut. Di aplikasi pemantauan Kemendagri, ikan kembung memang menjadi komoditas umum yang dipantau secara nasional karena dikonsumsi luas, dan saat ini pasokannya memang terganggu aktivitas impor serta logistik yang tidak lancar,” tambahnya.
Untuk meringankan beban masyarakat, Pemerintah Kota Palembang melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan rutin menggelar Pasar Murah di 18 kecamatan mulai awal Ramadan hingga menjelang Idulfitri. Berbeda dengan tahun sebelumnya, lokasi pasar murah akan digeser langsung ke pemukiman padat penduduk agar warga tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi.
“Kami bekerja sama dengan Bank Sumsel dan Bank Palembang untuk menyediakan voucher subsidi senilai Rp 10.000 per orang. Cukup membawa KTP, warga bisa mendapatkan keringanan harga. Misalnya harga telur Rp28 ribu, dengan voucher tinggal bayar Rp18 ribu,” kata Elsa.
Selain pasar murah, pemerintah juga memperkuat Operasi Pasar untuk dua komoditas utama, yakni Minyakita dan beras SPHP, yang ditempatkan langsung di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Soak Bato, Lemabang, KM 5, dan Sako.
Elsa mengimbau warga Palembang untuk menerapkan strategi “Belanja Bijak” di tengah fluktuasi harga. Ia menyarankan warga untuk membeli komoditas saat harga murah untuk kemudian disimpan atau diawetkan (seperti cabai yang digiling dan dibekukan).
“Berbelanjalah sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Jika ikan atau ayam sedang mahal, masyarakat bisa mencari alternatif protein lain yang lebih terjangkau namun tetap mencukupi gizi keluarga,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.







