Salah satu momentum penting yang mendahului Ramadhan adalah bulan Syakban. Di bulan ini, terdapat amalan yang sangat dianjurkan, yakni puasa Syakban. Namun, muncul pertanyaan apa hukum puasa Syakban setelah tanggal tanggal 15
Pelaksanaan puasa Syakban merupakan salah satu bentuk kecintaan hamba terhadap sunnah Rasulullah SAW. Namun pelaksanaan puasa Syaban pada tanggal 15 atau yang dikenal dengan periode setelah Nisfu Syakban memunculkan kebingungan.
Berikut adalah ulasan lengkap mengenai jadwal, keutamaan, serta penjelasan hukum puasa Syakban setelah tanggal 15. Simak artikel ini!
Puasa Syakban merupakan ibadah puasa sunnah yang dilakukan di bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Bulan ini memiliki posisi yang istimewa karena terletak di antara dua bulan mulia lainnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan.
Karena letaknya tersebut, banyak masyarakat yang terkadang melalaikan amalan di bulan ini karena lebih fokus mempersiapkan diri menghadapi bulan puasa wajib.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag), Puasa Sya’ban adalah amalan sunnah yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW paling banyak melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya’ban dibandingkan bulan-bulan lainnya. Dikutip dari MUI digital, Nabi Muhammad banyak melakukan puasa pada bulan ini.
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
Artinya: “Nabi SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan pun lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Syakban; bahkan beliau biasa berpuasa hampir seluruh bulan Sya’ban.” (HR Bukhari-Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa bulan tersebut merupakan waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Berdasarkan sistem penanggalan Hijriah tahun 1447, bulan Syakban diprediksi akan dimulai pada pertengahan Januari hingga Februari 2026. Berikut adalah estimasi jadwal pelaksanaan puasa sunnah di bulan Syakban:
– Awal Bulan Sya’ban 1447 H: Diperkirakan jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026.
– Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Syakban): Diperkirakan jatuh pada tanggal 1, 2, dan 3 Februari 2026.
– Malam Nisfu Sya’ban: Jatuh pada Selasa malam, 3 Februari 2026.
Mengingat terdapat perbedaan dalam metode penetapan hilal, masyarakat diimbau untuk tetap menunggu keputusan resmi terkait penetapan awal bulan hijriah.
Menjalankan ibadah puasa di bulan Syakban memberikan banyak manfaat bagi seorang muslim. Terdapat beberapa alasan mengapa bulan ini begitu istimewa untuk melaksanakan puasa sunnah:
1. Bulan Pengangkatan Amal: Syakban dipercayai sebagai waktu di mana catatan amal manusia selama satu tahun penuh diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Berpuasa saat momen ini dianggap sebagai cara terbaik dalam menghadap sang Pencipta.
2. Pemanasan Sebelum Ramadan: Puasa Sya’ban berfungsi sebagai latihan atau persiapan fisik agar tubuh tidak kaget saat harus berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan.
3. Waktu yang Sering Dilalaikan: Karena terjepit di antara dua bulan besar, beribadah di waktu orang lain sedang lalai memiliki nilai pahala yang sangat besar di sisi-Nya.
Salah satu topik yang paling sering diperdebatkan adalah mengenai hukum puasa Syakban setelah tanggal 15. Sebagian masyarakat merasa ragu untuk melanjutkan puasa setelah melewati malam Nisfu Sya’ban.
Hal ini didasarkan pada adanya hadis yang melarang berpuasa ketika bulan Syakban sudah berjalan setengahnya. Dikutip dari penjelasan resmi Lembaga Fatwa Kementerian Agama, terdapat penjelasan mendalam mengenai hal ini agar tidak terjadi salah paham di kalangan masyarakat.
Secara umum, hukum dasar berpuasa setelah tanggal 15 Syakban adalah sebagai berikut:
Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa sunnah setelah tanggal 15 Sya’ban hukumnya adalah haram atau dilarang. Larangan ini merujuk pada hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa jika Sya’ban sudah tinggal separuh, maka janganlah kalian berpuasa.
Alasan di balik larangan ini adalah demi menjaga kesehatan jemaah agar tidak kehabisan tenaga atau jatuh sakit sebelum bulan Ramadan dimulai.
Meskipun terdapat larangan, hukum puasa Sya’ban setelah tanggal 15 tidak berlaku secara mutlak. Terdapat kondisi-kondisi tertentu di mana puasa tersebut diperbolehkan, bahkan dianjurkan:
– Puasa Bagi yang Sudah Terbiasa: Jika seseorang memiliki kebiasaan rutin berpuasa sunnah, seperti Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) atau Puasa Senin-Kamis, maka ia diperbolehkan tetap melanjutkan puasanya meskipun sudah melewati tanggal 15 Sya’ban.
– Puasa Qadha: Bagi umat Muslim yang masih memiliki tanggungan utang puasa Ramadhan tahun lalu, hukum melaksanakan puasa qadha di paruh kedua bulan Sya’ban adalah wajib dan diperbolehkan. Hal ini justru menjadi kesempatan terakhir sebelum memasuki Ramadan baru.
– Melanjutkan Puasa dari Awal Bulan: Jika seseorang sudah mulai berpuasa sejak tanggal 1 Sya’ban atau sebelum tanggal 15 dan melanjutkannya hingga setelah tanggal 15 tanpa terputus, maka puasanya dianggap sah dan tidak termasuk dalam larangan.
– Puasa Nazar: Orang yang telah berjanji atau bernazar untuk berpuasa pada hari tertentu yang kebetulan jatuh setelah tanggal 15 Syakban tetap wajib melaksanakannya.
Masyarakat diimbau untuk mengutamakan kesehatan dan tidak memaksakan diri jika kondisi fisik tidak memungkinkan. Terutama di setengah terakhir bulan Syakban, agar kondisi tubuh tetap prima saat menyambut bulan suci Ramadan 1447 H.
Meskipun terdapat pembahasan mengenai Hukum Puasa Syaban Setelah Tanggal 15. Namun bagi mereka yang memiliki utang puasa atau sudah terbiasa berpuasa sunnah, ibadah ini tetap dapat dilakukan demi mengejar Keutamaan Puasa Syaban.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama
Apa Itu Puasa Syakban?
Jadwal Puasa Syakban 2026
Keutamaan Puasa Syakban
Hukum Puasa Syakban Setelah Tanggal 15
1. Pendapat yang Melarang
2. Pengecualian Hukum
Menjalankan ibadah puasa di bulan Syakban memberikan banyak manfaat bagi seorang muslim. Terdapat beberapa alasan mengapa bulan ini begitu istimewa untuk melaksanakan puasa sunnah:
1. Bulan Pengangkatan Amal: Syakban dipercayai sebagai waktu di mana catatan amal manusia selama satu tahun penuh diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Berpuasa saat momen ini dianggap sebagai cara terbaik dalam menghadap sang Pencipta.
2. Pemanasan Sebelum Ramadan: Puasa Sya’ban berfungsi sebagai latihan atau persiapan fisik agar tubuh tidak kaget saat harus berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan.
3. Waktu yang Sering Dilalaikan: Karena terjepit di antara dua bulan besar, beribadah di waktu orang lain sedang lalai memiliki nilai pahala yang sangat besar di sisi-Nya.
Salah satu topik yang paling sering diperdebatkan adalah mengenai hukum puasa Syakban setelah tanggal 15. Sebagian masyarakat merasa ragu untuk melanjutkan puasa setelah melewati malam Nisfu Sya’ban.
Hal ini didasarkan pada adanya hadis yang melarang berpuasa ketika bulan Syakban sudah berjalan setengahnya. Dikutip dari penjelasan resmi Lembaga Fatwa Kementerian Agama, terdapat penjelasan mendalam mengenai hal ini agar tidak terjadi salah paham di kalangan masyarakat.
Secara umum, hukum dasar berpuasa setelah tanggal 15 Syakban adalah sebagai berikut:
Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa sunnah setelah tanggal 15 Sya’ban hukumnya adalah haram atau dilarang. Larangan ini merujuk pada hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa jika Sya’ban sudah tinggal separuh, maka janganlah kalian berpuasa.
Alasan di balik larangan ini adalah demi menjaga kesehatan jemaah agar tidak kehabisan tenaga atau jatuh sakit sebelum bulan Ramadan dimulai.
Meskipun terdapat larangan, hukum puasa Sya’ban setelah tanggal 15 tidak berlaku secara mutlak. Terdapat kondisi-kondisi tertentu di mana puasa tersebut diperbolehkan, bahkan dianjurkan:
– Puasa Bagi yang Sudah Terbiasa: Jika seseorang memiliki kebiasaan rutin berpuasa sunnah, seperti Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) atau Puasa Senin-Kamis, maka ia diperbolehkan tetap melanjutkan puasanya meskipun sudah melewati tanggal 15 Sya’ban.
– Puasa Qadha: Bagi umat Muslim yang masih memiliki tanggungan utang puasa Ramadhan tahun lalu, hukum melaksanakan puasa qadha di paruh kedua bulan Sya’ban adalah wajib dan diperbolehkan. Hal ini justru menjadi kesempatan terakhir sebelum memasuki Ramadan baru.
– Melanjutkan Puasa dari Awal Bulan: Jika seseorang sudah mulai berpuasa sejak tanggal 1 Sya’ban atau sebelum tanggal 15 dan melanjutkannya hingga setelah tanggal 15 tanpa terputus, maka puasanya dianggap sah dan tidak termasuk dalam larangan.
– Puasa Nazar: Orang yang telah berjanji atau bernazar untuk berpuasa pada hari tertentu yang kebetulan jatuh setelah tanggal 15 Syakban tetap wajib melaksanakannya.
Masyarakat diimbau untuk mengutamakan kesehatan dan tidak memaksakan diri jika kondisi fisik tidak memungkinkan. Terutama di setengah terakhir bulan Syakban, agar kondisi tubuh tetap prima saat menyambut bulan suci Ramadan 1447 H.
Meskipun terdapat pembahasan mengenai Hukum Puasa Syaban Setelah Tanggal 15. Namun bagi mereka yang memiliki utang puasa atau sudah terbiasa berpuasa sunnah, ibadah ini tetap dapat dilakukan demi mengejar Keutamaan Puasa Syaban.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama
