Mengenal Upacara Begawi, Tradisi pemberian Gelar Sosial di Lampung

Posted on

Upacara begawi berasal dari masyarakat suku Lampung, khususnya kelompok masyarakat Lampung Pepadun. Bukan hanya pesta yang dilakukan berulang. Tradisi ini merupakan manifestasi dari struktur sosial, harga diri serta hukum adat yang telah diwariskan turun-temurun dan harus dilestarikan.

Dilansir melalui jurnal yang berjudul Begawi Adat Pepadun Marga Buay Selagai di Kecamatan Selagai Lingga Kabupaten Lampung Tengah karya Liza Putri Dkk. Tradisi ini merupakan ritual sakral suku Lampung untuk memberikan gelar adat kepada individu atau pasangan yang sudah menikah. Hal ini menandai kenaikan status sosial. Uniknya ritual ini akan berlangsung selama 7 hari 7 malam.

Penasaran dengan tradisi Begawi? Mari simak, berikut infoSumbagsel rangkum mengenai sejarah, prosesi, hingga nilai-nilai yang tergantung dalam adat ini.

Secara bahasa betawi berasal dari kosakata Lampung yang berarti ‘bekerja’ atau ‘suatu pekerjaan’. Namun, dalam konteks budaya, begawi berarti ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat Lampung Pepadun untuk menandakan kenaikan status sosial. Nama panjang dari tradisi ini adalah Begawi Cakak Pepadun.

Upacara Begawi digelar ketika seseorang ingin mendapatkan atau mengambil gelar yang lebih tinggi. Bagi Suku Lampung Pepadun, status sosial yang disandang oleh seseorang sangat menentukan status sosialnya di kalangan masyarakat. Sebab untuk bisa naik pangkat, seseorang harus memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya adalah kemampuan ekonominya yang tergolong tinggi.

Suku Lampung terbagi menjadi dua golongan, yaitu Suku adat Saibatin dan Pepadun, Suku Saibatin mendiami kawasan pesisir, sedangkan Pepadun merupakan masyarakat Lampung pedalaman. Perbedaan antara keduannya adalah apabila Pepadun bisa melakukan ritual untuk penambahan gelar atau status sosial, sebaliknya Saibatin gelarnya bersifat tetap dan berasal dari garis keturunan bukan upacara adat.

Suku Pepadun lebih menganut sistem demokrasi, dimana setiap kalangan masyarakat bisa mendapatkan peluang untuk memiliki gelar melalui tradisi begawi, selagi ia mampu memenuhi setiap persyaratan yang telah ditentukan oleh tetua atau tokoh adat. Sedangkan, Saibatin menganut sistem aritoktrasi atau garis keturunan, jadi gelar akan otomatis turun ke anak tertua dan akan berlangsung ke anak keturunan berikutnya.

Prosesi Begawi biasanya berlangsung selama 3 hingga 7 hari 7 malam, tergantung pada tingkatan gelar yang diambil. Berikut adalah tahapan-tahapan penting dalam upacara tersebut:

Sebelum acara dimulai, para penyimbang adat berkumpul untuk bermusyawarah. Mereka membahas mengenai sah atau tidaknya gelar yang akan diambil serta memastikan seluruh syarat adat telah terpenuhi. Ini adalah bentuk demokrasi asli masyarakat Lampung.

Jumlah kerbau yang dipotong menjadi indikator skala Begawi. Daging kerbau ini kemudian diolah untuk menjamu tamu dan dibagikan kepada warga. Hal ini melambangkan kedermawanan sang penyelenggara.

Tari Cangget adalah tarian sakral yang dilakukan pada malam hari. Tarian ini dilakukan oleh bujang dan gadis yang belum menikah, penari yang bertugas harus mengenakan siger dan kain tapis. Sehari sebelum prosesi banyak yang harus disiapkan seperti tempat duduk dan makanan yang akan disajikan kepada para tamu.

Tari harus disesuaikan dengan kedudukan yang akan diambil. Apabila penobatan gelar suttan wajib menggunakan Tari Cangget, tetapi apabila hanya pangeran maka tidak diwajibkan menggunakan prosesi ini.

Way berarti air atau sungai. Dalam ritual ini, calon penyandang gelar akan diarak menuju sungai atau sumber air. Prosesi ini melambangkan penyucian diri secara lahir dan batin sebelum memangku jabatan adat yang baru.

Inilah inti dari seluruh upacara. Pepadun adalah kursi kayu yang diukir indah dan melambangkan tahta atau status. Calon penyandang gelar akan duduk di atas Pepadun tersebut di hadapan para penyimbang lainnya. Setelah prosesi ini selesai, maka secara sah gelar baru melekat pada dirinya.

Dilansir melalui Buku yang berjudul Upacara Begawi Angkon Muaghi karya Izzah annisa Dkk. Ada beberapa perlengkapan juga yang harus dilengkapi untuk melangsungkan adat ini, yaitu Rato atau kereta kencana dengan burung garuda, singgasana yang terbuat dari kayu khusus untuk laki-laki, Kutu maro, tempat duduk khusus wanita, talok bala atau alat musik yang mirip dengan gamelan, Tiga payung agung dengan 3 warna berbeda yaitu merah, kuning dan putih, lawang kughi atau pintu gerbang dan kandang raring yang berfungsi membatasi para rombongan arakan-arakan.

Pakaian yang dikenakan saat melakukan acara adat Begawi adalah Pakaian adat suku Lampung Pepadun, lengkap dengan atribut yang memiliki warna keemasan dan kain tapis yang melambangkan status sosial dan kehormatan seseorang, berikut penjelasan lengkapnya:

Pria yang akan mengikuti prosesi adat ini harus mengenakan beberapa atribut ini, di antaranya:

Wanita yang akan mengikuti prosesi adat ini harus mengenakan atribut yang telah ditentukan, yaitu:

Upacara Begawi bukan sekadar ajang pamer kekayaan. Di balik kemegahannya, terdapat nilai-nilai filosofis yang mendalam:

Ini adalah filosofi hidup orang Lampung yang berarti menjaga harga diri, kehormatan, dan martabat. Menjalankan Begawi adalah bentuk pemenuhan harga diri dalam struktur adat.

Meskipun diselenggarakan oleh satu keluarga, Begawi mustahil sukses tanpa bantuan tetangga dan kerabat. Semangat saling membantu Sakai Sambayan sangat kental terasa di sini.

Begawi menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul, berinteraksi, dan mempererat tali silaturahmi antar klan atau kebuayan.

Di zaman modern seperti sekarang, penyelenggaraan Begawi menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi ekonomi. Biaya yang mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah membuat frekuensi upacara ini berkurang. Namun, pemerintah daerah Lampung dan para tokoh adat terus berupaya melestarikannya sebagai daya tarik wisata budaya dan identitas daerah.

Banyak keluarga Lampung di perantauan pun tetap berusaha melaksanakan Begawi di tanah kelahiran mereka demi menjaga akar budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Upaya pelestarian Adat ini harus terus dilakukan agar nilai-nilai kebudayaan Lampung tidak hilang hingga generasi berikutnya

Nah, itulah penjelasan singkat yang bisa infoSumbagsel rangkum tentang Upacara begawi. Semoga bermanfaat!

Artikel ini ditulis oleh Rhessya Putri Wulandari Tri Maris Mahasiswa Magang Prima PTKI Kementerian Agama.

Apa itu Adat Begawi?

Sejarah Tradisi Begawi

Tahapan dan Prosesi Upacara Begawi

1. Pepung Adat

2. Memotong Kerbau

3. Tari Cangget

4. Ritual Turun di Way

5. Cakak Pepadun

Busana dan Atribut Adat dalam Begawi

1. Pakaian Adat Khusus Pria

2. Pakaian Adat Khusus Wanita

Nilai-Nilai Luhur dalam Upacara Begawi

A. Piil Pesenggiri

B. Sakai Sambayan

C. Nengah Nyappur

Tantangan Upacara Begawi di Era Modern