Palembang tidak hanya dikenal dengan kemegahan Jembatan Ampera atau kelezatan Pempeknya. Ibu kota Sumasel ini menyimpan kekayaan budaya tak benda yang sangat dalam, salah satunya adalah tradisi Ngobeng.
Berdasarkan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, Ngobeng secara resmi telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Sumsel oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Lalu, apa itu Ngobeng dan mengapa tradisi ini dianggap sebagai simbol kearifan lokal yang paling tinggi di Bumi Sriwijaya? Berikut infoSumbagsel kupas tuntas sejarah, filosofi, tata cara, hingga rekomendasi tempat menikmati Ngobeng di Palembang saat ini.
Ngobeng adalah tradisi makan bersama masyarakat Palembang yang dilakukan dengan cara duduk lesehan secara berkelompok. Secara etimologi, beberapa sejarawan lokal menyebut Ngobeng berasal dari kata ‘ngobeng’ yang berarti membantu atau melayani.
Tradisi ini melibatkan kerja sama tim yang solid dalam menyajikan makanan kepada tamu. Berbeda dengan gaya prasmanan yang modern, dalam Ngobeng, tamu cukup duduk manis secara melingkar. Kemudian, makanan yang akan datang menghampiri tamu melalui estafet tangan-tangan para pelayan atau tuan rumah.
Tradisi Ngobeng bukan sekadar cara mengisi perut. Di dalamnya terkandung nilai-nilai sosial yang sangat kuat yang menjadi identitas masyarakat Palembang, diantaranya:
Dalam satu lingkaran Ngobeng, biasanya terdiri dari 8 orang, tidak ada perbedaan kasta. Pejabat, tokoh masyarakat, hingga warga biasa duduk sejajar di lantai yang sama. Semua menikmati jenis makanan yang sama dari wadah yang sama.
Keunikan Ngobeng terletak pada cara penyajiannya yang dilakukan secara estafet. Piring-piring makanan dioper dari dapur hingga ke hadapan tamu oleh sekelompok pria yang berdiri berjejer. Ini melambangkan bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan bersama-sama.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal kebudayaan oleh Nyimas Umi Kalsum, tradisi Ngobeng bukan sekadar tata cara makan, melainkan media penanaman nilai karakter dan gotong royong yang sudah mengakar di masyarakat Palembang sejak era Kesultanan.
Dalam budaya Melayu Palembang, melayani tamu adalah kewajiban utama. Dengan Ngobeng, tamu tidak perlu lelah mengantre makanan. Tuan rumah memastikan setiap tamu mendapatkan porsi yang cukup langsung di depan tempat duduk mereka.
Bagi infoers yang baru pertama kali mengikuti Ngobeng, ada protokol tidak tertulis yang perlu diketahui agar pengalaman infoers terasa otentik, yaitu:
Satu kelompok makan biasanya terdiri dari 8 orang. Mereka akan duduk melingkar mengelilingi kain alas atau taplak yang disebut iwat. Di tengah-tengah akan diletakkan nampan besar berisi berbagai lauk pauk.
Inilah bagian paling ikonik. Para penyaji makanan akan membentuk barisan panjang dari dapur. Mereka akan mengoper piring berisi nasi, lauk, hingga air cuci tangan secara cepat namun tetap rapi. Tradisi estafet ini dilakukan agar makanan tidak tumpah dan sampai ke tamu dalam keadaan masih hangat.
Hidangan yang disajikan biasanya adalah masakan khas Palembang yang kaya rempah, di antaranya:
Masyarakat Palembang biasanya makan menggunakan tangan langsung tanpa sendok. Sebelum mulai, akan ada orang yang membawa tekoan atau wadah air untuk membasuh tangan para tamu secara bergantian di tempat duduk masing-masing.
Jika Anda berada di Palembang dan ingin merasakan sensasi makan ala sultan Palembang lama, berikut adalah beberapa rekomendasinya, yaitu:
Di kampung Arab tertua ini, tradisi Ngobeng masih dijaga sangat asli. Anda bisa memesan paket makan bersama sambil menikmati arsitektur rumah kayu yang berusia ratusan tahun.
Beberapa restoran yang mengusung konsep rumah adat Palembang yaitu, Rumah Bari, biasanya menyediakan layanan Ngobeng untuk acara keluarga atau korporat.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Pada acara-acara festival budaya tertentu, pemerintah kota sering mengadakan makan Ngobeng massal yang bisa diikuti oleh masyarakat umum.
Ingin membawa suasana Palembang ke rumah, infoers bisa mengadaptasi Ngobeng untuk acara arisan atau kumpul keluarga. Adapun tipsnya yakni:
Ngobeng bukan sekadar tradisi makan, melainkan cerminan hati masyarakat Palembang yang hangat, gotong royong, dan sangat menghargai tamu. Mempelajari dan mempraktikkan Ngobeng berarti kita ikut menjaga nyala api kebudayaan Sumatera Selatan agar tidak padam dimakan zaman.
Di tengah gempuran tren makanan modern di tahun 2026, Ngobeng hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan duduk bersama di atas lantai yang sama, berbagi rezeki yang sama.
Itulah penjelasan singkat mengenai Tradisi Ngobeng di Palembang. Semoga bermanfaat!
