Waktu pelaksanaan tradisi ruwahan sebelum Ramadan sering menjadi pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat muslim. Sebabnya, ruwahan masih rutin dilakukan sebagai bentuk persiapan spiritual dan doa bersama sebelum memasuki ibadah puasa.
Tradisi ruwahan sebelum Ramahan umumnya dilakukan pada pertengahan hingga akhir bulan Syaban. Oleh karena itu, mengetahui jadwal ruwahan sebelum Ramadan penting agar tradisi ini dapat dijalankan dengan tepat, sekaligus memahami hukum ruwahan menurut ajaran Islam.
Berikut infoSumbagsel akan menjelaskan kapan ruwahan sebelum Ramadan, mulai dari jadwal hingga hukum melakukanya. Simak penjelasan lengkapnya!
Dikutip buku Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia oleh Jajat Burhanuddin, tradisi Ruwahan mulai bisa dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan bulan Syaban dalam kalender Hijriah. Bagi masyarakat Jawa, bulan ini memiliki makna khusus karena dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mengirim doa kepada para leluhur yang telah wafat.
Oleh karena itu, ruwahan menjadi salah satu bagian penting dari tradisi spiritual yang dilakukan menjelang datangnya bulan Ramadhan. Pelaksanaannya dilakukan sejak awal bulan ruwah dan dapat berlangsung hingga pertengahan atau mendekati akhir bulan.
Waktu pelaksanaannya menyesuaikan dengan kebiasaan di masing-masing daerah, namun tujuan utamanya tetap sama yakni sebagai persiapan rohani sebelum memasuki ibadah puasa. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya memperkuat hubungan spiritual, tetapi juga menjaga nilai kebersamaan dan keharmonisan sosial.
Dilansir jurnal berjudul Pelestarian Budaya: Tradisi Ruwahan Dengan Modifikasi Mata Raka dan Kegiatan Kado Silang Untuk Menarik Minat Masyarakat Kampung Pujokusuman oleh Farhan dkk, tradisi ruwahan merupakan warisan budaya turun-temurun masyarakat Jawa, dengan tujuan untuk mengenang sekaligus mendoakan arwah para leluhur agar mendapatkan ketenangan di alam kubur.
Selain bernilai spiritual, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antar warga dalam satu lingkungan. Terdapat beberapa proses yang harus dilakukan oleh masyarakat, berikut ini adalah beberapa yang umum dilakukan.
Masyarakat secara bersama-sama membersihkan area makam keluarga dan leluhur, mulai dari mencabut rumput liar hingga mengecat ulang bangunan cungkup makam.
Kegiatan ini dilakukan sebagai wujud penghormatan dan kepedulian terhadap pendahulu yang telah wafat. Setelah pembersihan selesai, masyarakat umumnya akan menggelar doa bersama di pemakaman untuk mengirimkan doa kepada arwah leluhur.
Tahapan selanjutnya, yaitu dengan melakukan pembacaan tahlil dan doa yang dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan ini biasanya dilakukan di area pemakaman, rumah atau tempat ibadah.
Bacaan tahlil berisi pujian kepada Allah SWT serta permohonan ampun bagi orang-orang yang telah meninggal dunia. Prosesi doa biasanya dipimpin oleh tokoh agama.
Prosesi ini menjaib bagian penting dalam rangkaian Ruwahan,dalam proses ini masyarakat menyiapkan beragam makanan tradisional seperti tumpeng, kue apem, dan hidangan khas lainnya.
Makanan tersebut kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, serta warga yang hadir. Kenduri dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus sarana mempererat kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Megengan merupakan ritual yang dilakukan menjelang masuknya bulan Ramadhan. Tradisi ini biasanya diisi dengan pembagian makanan khas, terutama kue apem, yang melambangkan permohonan maaf dan ampunan.
Selain itu, megengan juga menjadi momen silaturahmi antarwarga, di mana masyarakat saling berkunjung dan mempererat hubungan sebelum memasuki bulan puasa yang sarat dengan ibadah.
Sebagai penutup rangkaian Ruwahan, sebagian masyarakat melaksanakan adus kramas atau mandi keramas. Ritual ini melambangkan proses penyucian diri, baik secara jasmani maupun rohani.
Mandi dilakukan dengan menggunakan air yang dicampur dengan bunga atau rempah tertentu dipercaya memiliki makna simbolis sebagai pembersih diri. Adus kramas mencerminkan kesiapan spiritual seseorang untuk menyambut dan menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan hati dan tubuh yang bersih.
Hukum tradisi ini dalam Islam pada dasarnya diperbolehkan (mubah) apabila dalam pelaksanaannya tidak bertentangan dengan ajaran syariat Islam. Kegiatan ini biasanya diisi dengan kegiatan positif seperti doa bersama, tahlilan, ziarah kubur, dan sedekah dinilai sebagai amalan yang baik karena mengandung unsur mengingat kematian serta memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Para ulama juga menjelaskan bahwa hukum tradisi ruwahan ini dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk berdoa bagi orang yang telah meninggal dan juga dapat mempererat silaturahmi antar warga. Hal ini tentu sejalan dengan ajaran agama Islam yang menganjurkan umatnya untuk mendoakan orang tua dan leluhur juga berbagi kepada sesama.
Namun, tradisi ini tidak dianjurkan untuk dilakukan apabila dalam pelaksanaannya disertai dengan keyakinan yang menyimpang seperti meyakini dan mempercayai kekuatan selain Allah atau melakukan ritual yang bertentangan dengan akidah Islam.
Oleh karena itu, umat islam dianjurkan untuk melaksanakan kegiatan ini dengan lebih bijak dan berpegang teguh pada nilai-nilai syariat dan tidak melenceng dari ajaran Islam.
Nah itulah jadwal, prosesi hingga hukum tradisi ruwahan yang sudah infoSumbagsel rangkum. Semoga bermanfaat ya!
Artikel ini ditulis oleh Rika Amelia Peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker info.com







