Umat muslim telah resmi memasuki bulan Syaban 1447 H. Bulan ini juga dikenal sebagai bulan persiapan Ramadan, dan masyarakat biasanya menyambutnya dengan berbagai tradisi, salah satunya tradisi ruwahan atau sedekah ruwah.
Ruwahan merupakan tradisi penghormatan kepada orang-orang yang telah mendahului kita dengan mengirimkan doa. Tujuan dari diadakannya tradisi ini adalah untuk memohonkan ampunan untuk leluhur dan para orang beriman yang mendahului.
Berikut ini infoSumbagsel sajikan informasi mengenai ruwahan di bulan Syaban lengkap waktu pelaksanannya. Yuk simak!
Dilansir dari jurnal berjudul Tradisi Ruwahan Pada Masyarakat Melayu Palembang Dalam Perspektif Psikologi oleh Poppy Dwinanda dan kawan-kawan, ruwahan adalah budaya Melayu Palembang yang berasal dari masyarakat Jawa. Pada masa Kerajaan Melayu Berjaya, Raden Fatah membawa budaya Jawa masuk ke tanah Sumatera hingga terjadi perpaduan antara Melayu, Jawa, dan Islam.
Masih di sumber yang sama menurut beberapa ahli, ruwahan atau sedekah ruwah merupakan ritual keagamaan yang digagas oleh Wali Songo saat penyebaran agama Islam di Nusantara. Istilah ruwahan berasal dari bahasa Arab, yaitu arwah yang memiliki makna roh atau jiwa. Ruwah juga bisa berarti sebagai arwah atau ruh orang yang sudah meninggal.
Pada dasarnya, ruwahan merupakan seremonial untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Menurut kalender Jawa, tradisi ini dilaksanakan pada bulan ruwah, yang dalam kalender Hijriah bertepatan dengan bulan Syaban.
Umumnya tradisi ini dapat dilaksanakan sepanjang bulan Syaban, mulai dari tanggal 1 hingga 30 Syaban, tergantung pilihan masing-masing orang. Berdasarkan informasi dari NU Online, tradisi ini digelar masyarakat menjelang bulan suci Ramadan, tepatnya 10 hari terakhir Syaban. Di beberapa daerah, tradisi ini biasanya dilakukan pada Kamis malam (malam Jumat) dengan mengundang kerabat, sahabat, hingga tetangga.
Meski demikian, tidak ada jadwal pasti. Masyarakat dapat menyesuaikan waktu pelaksanaan sesuai pilihan masing-masing. Perlu diingat, ruwahan merupakan tradisi budaya dan bukan bagian dari ibadah wajib dalam Islam, sehingga pelaksanaannya bersifat pilihan.
Mengutip dari jurnal berjudul Perubahan Budaya dalam Tradisi Ruwahan pada Masyarakat Melayu Palembang oleh Bety dan kawan-kawan. Tradisi ruwahan yang biasa dilakukan masyarakat Melayu Palembang meliputi bersedekah dan mendoakan nenek moyang, saudara, dan orang tua yang telah berpulang. Biasanya, tuan rumah mengundang keluarga, kerabat, dan tetangga untuk mengikuti pengajian dan doa bersama.
Pada malam Nisfu Syaban, setiap keluarga berlomba-lomba melakukan sedekah ruwah dengan membawa berbagai hidangan khas Kota Palembang. Hidangan tersebut lalu dibawa ke masjid atau musala untuk dimakan bersama-sama setelah pembacaan Yasin tiga kali dan salat Isya.
Menariknya, setiap hidangan dimakan bersama oleh orang-orang dengan lapisan sosial yang berbeda, dan setiap peserta dapat dengan bebas memilih hidangan sesuai keinginan mereka. Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan berkah malam Nisfu Syaban, tetapi juga dapat menambah kebersamaan antar warga.
Kini ruwahan masih dapat ditemukan tetapi dalam bentuk berbeda, masyarakat kini lebih senang dengan cara membagikan nasi kotak ke tetangga, kerabat, atau saudara karena dianggap simpel dan tidak merepotkan.
Selain praktik tradisi yang khas di Palembang, penting juga untuk memahami bagaimana tradisi ruwahan dipandang dalam agama Islam.
Dilansir dari video berjudul Hukum Tradisi Ruwahan Jelang Bulan Puasa dari saluran YouTube Al-Bahjah TV yang dijelaskan oleh Buya Yahya, bahwa tradisi saling berbagi makanan menjelang bulan Ramadhan merupakan kegiatan baik karena mempererat hubungan sesama muslim.
Kegiatan mendoakan orang yang telah meninggal juga merupakan hal yang dianjurkan. Buya Yahya menjelaskan bahwasannya tradisi mendoakan orang yang telah tiada merupakan tradisi yang baik.
Dari Ummu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim no. 2733).
Buya Yahya juga turut menegaskan bahwa kita tetap dapat mendoakan orang yang telah meninggal kapan saja, tanpa perlu menunggu momen/waktu tertentu. Sebaiknya, kita terus mendoakan orang yang telah meninggal setiap waktu.
Itulah dia informasi seputar jadwal Ruwahan di bulan Syaban, lengkap waktu pelaksanaannya. Semoga berguna ya!
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker
Apa Itu Ruwahan
Kapan Waktu yang Tepat Untuk Melaksanakan Ruwahan
Tradisi Ruwahan dalam Masyarakat Melayu Palembang
Ruwahan dalam Islam
Mengutip dari jurnal berjudul Perubahan Budaya dalam Tradisi Ruwahan pada Masyarakat Melayu Palembang oleh Bety dan kawan-kawan. Tradisi ruwahan yang biasa dilakukan masyarakat Melayu Palembang meliputi bersedekah dan mendoakan nenek moyang, saudara, dan orang tua yang telah berpulang. Biasanya, tuan rumah mengundang keluarga, kerabat, dan tetangga untuk mengikuti pengajian dan doa bersama.
Pada malam Nisfu Syaban, setiap keluarga berlomba-lomba melakukan sedekah ruwah dengan membawa berbagai hidangan khas Kota Palembang. Hidangan tersebut lalu dibawa ke masjid atau musala untuk dimakan bersama-sama setelah pembacaan Yasin tiga kali dan salat Isya.
Menariknya, setiap hidangan dimakan bersama oleh orang-orang dengan lapisan sosial yang berbeda, dan setiap peserta dapat dengan bebas memilih hidangan sesuai keinginan mereka. Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan berkah malam Nisfu Syaban, tetapi juga dapat menambah kebersamaan antar warga.
Kini ruwahan masih dapat ditemukan tetapi dalam bentuk berbeda, masyarakat kini lebih senang dengan cara membagikan nasi kotak ke tetangga, kerabat, atau saudara karena dianggap simpel dan tidak merepotkan.
Selain praktik tradisi yang khas di Palembang, penting juga untuk memahami bagaimana tradisi ruwahan dipandang dalam agama Islam.
Dilansir dari video berjudul Hukum Tradisi Ruwahan Jelang Bulan Puasa dari saluran YouTube Al-Bahjah TV yang dijelaskan oleh Buya Yahya, bahwa tradisi saling berbagi makanan menjelang bulan Ramadhan merupakan kegiatan baik karena mempererat hubungan sesama muslim.
Kegiatan mendoakan orang yang telah meninggal juga merupakan hal yang dianjurkan. Buya Yahya menjelaskan bahwasannya tradisi mendoakan orang yang telah tiada merupakan tradisi yang baik.
Dari Ummu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim no. 2733).
Buya Yahya juga turut menegaskan bahwa kita tetap dapat mendoakan orang yang telah meninggal kapan saja, tanpa perlu menunggu momen/waktu tertentu. Sebaiknya, kita terus mendoakan orang yang telah meninggal setiap waktu.
Itulah dia informasi seputar jadwal Ruwahan di bulan Syaban, lengkap waktu pelaksanaannya. Semoga berguna ya!
Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker
