Kota Palembang tidak hanya dikenal sebagai pusat kuliner pempek, tetapi juga menyandang predikat sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.
Sejarah yang tersimpan Kota Pempek ini sangat Panjang. Termasuk terciptanya dua daerah yang terpisah oleh Sungai. Dilansir dari Palembang dan Dunia dalam Sejarah Berkelindan oleh Arafah Pramasto ulu dan ilir bukan hanya sekadar wilayah melainkan sosio kultural.
Palembang menjadi Ibu Kota Provinsi Sumatera Selatan. Menjadi kota tertua yang memiliki Sungai Musi yang merupakan muara dari sungai sungai kecil. Berikut ini artikel mengenai berapa usia Palembang saat ini hingga Sejarah lahirnya Kota Palembang.
Usia Kota Palembang didasarkan pada bukti sejarah, yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Berdasarkan penanggalan yang tertera pada prasasti tersebut, Kota Palembang lahir pada tanggal 16 Juni 682 Masehi.
Jika dihitung hingga tahun 2026 ini, maka usia Kota Palembang saat ini adalah 1.344 tahun. Angka ini menunjukkan posisi Palembang sebagai kota yang telah ada jauh sebelum banyak kerajaan besar lain di Nusantara berdiri.
Dilansir dari buku Sejarah Melayu karya Ahmad Dahlan, penetapan hari jadi ini merujuk pada peristiwa Siddhayatra. Siddhayatra sendiri yaitu perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa.
Hyang Sri Jayanasa menggunakan perahu dan membawa ribuan tentara untuk membangun sebuah “Wanua” atau pemukiman yang kini dikenal sebagai Palembang.
Sejarah Palembang tidak dapat dipisahkan dari kemegahan Kerajaan Sriwijaya. Pada abad ke-7 hingga ke-12, Palembang berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat pengajaran agama Buddha di Asia Tenggara.
Lokasinya yang strategis di tepian Sungai Musi menjadikan Palembang sebagai titik temu perdagangan internasional antara Tiongkok, India, dan Arab.
Kutipan dari situs resmi Pemerintah Kota Palembang menyebutkan bahwa nama “Palembang” berasal dari kata dalam bahasa Melayu “Pa” yang berarti tempat, dan “Lembang” yang berarti tanah yang digenangi air.
Hal ini merujuk pada kondisi topografi Palembang yang dikelilingi oleh rawa rawa dan air. Nama Palembang dapat disimpulkan sebagai Gambaran dari Lokasi itu sendiri.
Setelah masa Sriwijaya selesai, Palembang sempat mengalami masa transisi sebelum akhirnya berdiri Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-17.
Pada masa ini, pengaruh Islam mulai mengakar kuat, yang kemudian melahirkan berbagai tradisi dan arsitektur khas yang masih bisa disaksikan hingga saat ini, seperti Masjid Agung Palembang.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Meskipun secara resmi berusia lebih dari 13 abad, julukan “Kota Pempek” baru populer di era yang lebih modern. Namun, julukan Kota Pempek ini sebenarnya berkaitan erat dengan sejarah panjang perdagangan di Palembang.
Pempek merupakan hasil akulturasi budaya antara penduduk lokal dengan masyarakat Tionghoa yang menetap di Palembang sejak masa kerajaan. Penggunaan ikan sungai sebagai bahan utama menunjukkan betapa bergantungnya kehidupan masyarakat pada ekosistem Sungai Musi.
Dikutip Produk Hasil Perikanan oleh Ikromatun, Dkk., pempek awalnya disebut dengan nama “kelesan”, yaitu makanan yang dihaluskan (dikeles).
Nama pempek sendiri berasal dari panggilan untuk pria tua keturunan Tionghoa, yaitu “Apek”, yang dahulu banyak menjajakan makanan ini.
Seiring bertambahnya usia kota, pempek bukan sekadar makanan, melainkan identita. Identitas Melalui kuliner yang memperkenalkan Palembang ke kancah internasional.
Dilansir dari buku Palembang: Sejarah dan Kebudayaannya karya Farida Wargadalem, perbedaan karakter antara Ulu dan Hilir menciptakan dinamika unik.
Salah satu karakteristik unik dari tata kota Palembang adalah pembagian wilayah berdasarkan aliran Sungai Musi. Terdapat dua daerah secara pembagian berdasarkan Jembatan Ampera yaitu Daerah Ulu dan Daerah Hilir.
Dilansir dari buku Khazanah Kota Palembang oleh Syarifuddin, Dkk., Kedua wilayah ini memiliki topografi yang berbeda. Pembagian ini juga memiliki nilai historis dan sosiologis yang mendalam.
Kawasan Hilir secara tradisional dianggap sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi sejak zaman Kesultanan hingga kolonial Belanda.
Di daerah Hilir inilah terletak ikon ikon kota seperti Benteng Kuto Besak (BKB), Masjid Agung, dan pusat perbelanjaan utama. Kawasan ini cenderung lebih padat dan menjadi wajah modernitas kota.
Kawasan Ulu terletak di seberang pusat kota (Hilir). Dahulu, kawasan ini lebih banyak dihuni oleh masyarakat asli dan pendatang dari luar daerah melalui jalur sungai.
Pembangunan Jembatan Ampera pada tahun 1960-an menjadi titik balik penting yang menghubungkan Ulu dan Hilir, sehingga ketimpangan pembangunan di antara keduanya mulai terkikis.
Saat ini, wilayah Ulu telah berkembang pesat dengan adanya pusat olahraga bertaraf internasional, Jakabaring City.
Dari sini, sungai berfungsi sebagai pemersatu sekaligus urat nadi transportasi utama selama berabad-abad. Sejarah Palembang adalah aset yang tidak ternilai bagi identitas nasional Indonesia.
Dari kejayaan Sriwijaya hingga lezatnya sepiring pempek, Palembang terus berdenyut mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan akar sejarahnya yang kuat.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.
