Satu pekan setelah Tahun Baru 2026, harga bahan pangan di pasar tradisional Palembang menunjukkan tren yang kontradiktif. Harga cabai dan bawang mulai melandai sementara harga ayam potong dan ikan melambung naik.
Penurunan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai. Ina (50), salah satu pedagang sembako di Pasar KM 5 Palembang, mengungkapkan bahwa harga cabai merah keriting kini merosot tajam ke angka Rp 40.000 per kg, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp 80.000 per kg. Begitu pula dengan cabai setan yang sempat mencapai Rp 100.000 kini telah berangsur turun.
“Bawang merah juga turun sekarang Rp 50.000 per kg, padahal kemarin pernah sampai Rp 70.000. Tapi kalau sayur seperti kangkung malah naik bisa Rp 5.000 per ikat karena cuaca hujan dan bencana di daerah pemasok,” ujar Ina, usai ditemui tim infoSumbagsel Rabu (7/1/2025).
Zainur (58), pedagang ayam di Pasar KM 5, mengeluhkan harga ayam ras yang kini bertahan di angka Rp 38.000 per kg. Menurutnya, tren harga tinggi ini tidak terlepas dari tingginya permintaan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Selama ada MBG ini harga ayam tinggi terus, tidak pernah turun. Biasanya kalau turun bisa Rp 30.000 atau Rp 35.000. Akibatnya pembeli sepi, stok 35 kilo saja sampai siang baru laku sedikit sekali,” keluh pedagang yang sudah 30 tahun berjualan ini.
Tak hanya ayam, harga ikan kini mulai terkerek naik. Izwatun (36), penjual ikan, menyebutkan kenaikan terjadi merata pada hampir seluruh jenis ikan. Ikan sarden besar kini dijual Rp 38.000 per kg, sementara ikan kembung naik menjadi Rp 45.000 per kg.
Senada, Hendri (28) pedagang ikan lainnya, mencatat ikan mujair kini dibanderol Rp 35.000 per kg, naik dari harga normal Rp 30.000 per kg.
“Ikan tongkol juga naik jadi Rp 30.000. Harapannya harga turun lagi supaya pembeli ramai, karena sekarang pembeli sedang macet (sepi),” tuturnya.
Harga ikan nila kini tercatat mencapai Rp 40.000/kg, padahal biasanya sekitar Rp 28.000/kg. Harga ikan patin kini mencapai Rp 28.000/kg.
Kenaikan harga protein ini sangat dirasakan oleh warga, seperti Anita (42) dan Leni . Mereka mengaku harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga di tengah harga yang kian mahal.
“Ikan mujair, sarden, sampai tongkol naik semua habis tahun baru ini. Sangat berpengaruh, kalau ikan mahal terus kami jadi tidak bisa makan ikan lagi. Maunya harga turun seperti biasa, karena harga barang naik tapi gaji buruh tidak naik,” keluh Anita.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Hingga saat ini, para pedagang dan pembeli di Pasar KM 5 berharap ada intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga, terutama pada komoditas protein dan stok sembako bersubsidi yang sering mengalami kelangkaan.
Artikel ini ditulis oleh Nadiya peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.
