Masa kehamilan merupakan fase yang penuh dengan perubahan, baik secara fisik maupun emosional. Fakta dan mitos ibu hamil selama kehamilan kerap ditemui di masyarakat dan sering kali membuat khawatir berlebih.
Fakta Adalah kenyataan yang berdasarkan pada ilmiah, sedangkan mitos pendapat yang tidak mendasar. Biasanya mitos hadir dengan perasaan tidak nyaman. Kedua Hal ini perlu diperhatikan ibu hamil.
Dengan mengetahui fakta dan mitos yang sebenarnya, ibu hamil dapat menjalani masa kehamilan dengan lebih baik. Berikut ini adalah ulasan mendalam mengenai sederet fakta dan mitos ibu hamil yang perlu dipahami.
Dalam buku Mitos dan Fakta Kehamilan oleh Dini Indo Virawati dan Nur Fadila Putri, dijelaskan bahwa metabolisme kafein pada ibu hamil memang dapat melambat secara signifikan. Hal ini menyebabkan kafein bertahan lebih lama di dalam aliran darah ibu dan dapat menembus plasenta.
Kafein yang masuk ke dalam sistem janin memiliki risiko memicu keguguran jika dikonsumsi secara berlebihan. Tidak hanya itu, mengonsumsi kopi yang mengandung kafein tinggi dapat mempengaruhi perkembangan sistem saraf dan otak janin.
Konsumsi kafein dengan jumlah tinggi berisiko menyebabkan kelahiran prematur hingga berat badan lahir rendah (BBLR). Sebaiknya ibu hamil membatasi konsumsi kopi atau kafein.
Konsumsi makanan pedas bagi ibu hamil memang menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran akan keselamatan janin. Makan makanan pedas memang dapat menyebabkan mulas hingga gangguan pencernaan.
Mengidam makanan pedas bagi ibu hamil adalah hal yang normal terjadi karena perubahan hormon. Faktanya, bumbu dan rempah pedas tidak dapat menjangkau janin secara langsung di dalam rahim.
Cairan ketuban memang akan menyerap sedikit rasa dan bau dari makanan yang masuk, namun hal ini tidak akan melukai janin. Bahaya utama dari makanan pedas lebih terletak pada kenyamanan pencernaan ibu, bukan keselamatan bayi di dalam kandungan.
Dikutip dari buku Mitos dan Fakta Seputar Kehamilan oleh Essie Laksana, tidak menuruti ngidam sebenarnya hanyalah mitos belaka. Kedua hal tersebut tidak memiliki kaitan medis sama sekali.
Ngiler pada bayi biasanya berkaitan dengan perkembangan kelenjar air liur dan pertumbuhan gigi, bukan karena keinginan makan ibu yang tidak terpenuhi. Ngidam sendiri disebabkan oleh keinginan psikologis untuk memberikan penghargaan terhadap diri sendiri atas beban fisik yang dirasakan saat hamil.
Selain itu, ngidam juga dipicu oleh hormon yang membuat indera sensorik ibu menjadi lebih sensitif terhadap rasa atau aroma tertentu.
Faktanya, saat hamil, ibu masih diperbolehkan mengkonsumsi asinan dalam jumlah yang wajar dan secukupnya. Namun, ada kondisi kesehatan tertentu yang perlu diwaspadai.
Dilansir dari buku Menjawab Mitos-Mitos Kehamilan dan Menyusui, ibu hamil yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi harus menghindari atau sangat membatasi asinan.
Hal ini dikarenakan asinan memiliki kandungan garam yang sangat tinggi, yang berpotensi memicu lonjakan tekanan darah dan pembengkakan pada tubuh.
Berdasarkan buku Bunga Rampai Asuhan Antenatal Berbasis Bukti oleh Drawitri, dkk., hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa mengkonsumsi buah nanas dalam jumlah wajar dapat menyebabkan keguguran spontan.
Kekhawatiran ini muncul karena kandungan enzim bromelain dalam nanas yang dianggap dapat melunakkan leher rahim. Padahal, kadar bromelain dalam satu buah nanas sangatlah sedikit dan tidak cukup kuat untuk memicu kontraksi rahim.
Selama nanas yang dikonsumsi adalah nanas matang dan dalam porsi yang normal, buah ini justru memberikan asupan vitamin C dan serat.
Berbeda dengan nanas, larangan memakan daging dan ikan setengah matang adalah sebuah fakta medis yang harus dipatuhi. Ibu hamil dilarang keras mengonsumsi makanan yang tidak dimasak hingga matang sempurna demi menghindari infeksi parasit Toxoplasma gondii (toksoplasma).
Kondisi infeksi ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan keguguran, terutama pada awal kehamilan atau trimester pertama. Dilansir dari buku Menjawab Mitos Kehamilan oleh Rafi A. Tino, toksoplasma dapat menyebabkan kelainan serius pada bayi yang sedang berkembang.
Kelainan tersebut meliputi kepala membesar akibat penumpukan cairan (hydrocephalus) atau bahkan kondisi bayi lahir tanpa sebagian tulang tengkorak (anencephaly). Pastikan semua produk hewani yang dikonsumsi sudah melalui proses pemasakan dengan suhu yang tepat.
Beberapa orang tua zaman dahulu sering melarang ibu hamil makan ikan karena khawatir bayi dan air ketuban akan berbau amis atau anyir. Faktanya tidak demikian. Rahim dan kantung ketuban tidak memiliki hubungan saluran langsung dengan saluran pencernaan makanan ibu.
Dilansir dari buku Mempersiapkan Kehamilan Sehat oleh Juni Januadi Endjun, ikan justru merupakan salah satu sumber makanan yang sangat sehat untuk ibu hamil. Di dalam ikan terkandung asam lemak Omega-3 (DHA dan EPA) yang sangat tinggi.
Kandungan ini terbukti efektif membantu perkembangan otak janin serta fungsi penglihatan. Selain itu, Omega-3 juga bermanfaat menjaga tekanan darah. Hindarilah konsumsi ikan yang memiliki potensi kandungan merkuri tinggi seperti ikan hiu, ikan pedang, dan makarel raja.
Dengan memahami berbagai fakta dan mitos ini, diharapkan ibu hamil tidak lagi merasa bingung atau takut dalam memilih asupan nutrisi. Semoga bermanfaat!
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.
Fakta dan mitos Ibu hamil
1. Benarkah Ibu Hamil Tidak Boleh Minum Kopi?
2. Dampak Makan Pedas Bagi Ibu Hamil
3. Mitos Ngidam Tidak Dituruti Membuat Bayi ‘Ngiler’
4. Larangan Makan Asinan saat Hamil
5. Makan Nanas Menyebabkan Keguguran
6. Bahaya Daging dan Ikan Setengah Matang
7. Ikan Menyebabkan Bayi Berbau Anyir
Faktanya, saat hamil, ibu masih diperbolehkan mengkonsumsi asinan dalam jumlah yang wajar dan secukupnya. Namun, ada kondisi kesehatan tertentu yang perlu diwaspadai.
Dilansir dari buku Menjawab Mitos-Mitos Kehamilan dan Menyusui, ibu hamil yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi harus menghindari atau sangat membatasi asinan.
Hal ini dikarenakan asinan memiliki kandungan garam yang sangat tinggi, yang berpotensi memicu lonjakan tekanan darah dan pembengkakan pada tubuh.
Berdasarkan buku Bunga Rampai Asuhan Antenatal Berbasis Bukti oleh Drawitri, dkk., hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa mengkonsumsi buah nanas dalam jumlah wajar dapat menyebabkan keguguran spontan.
Kekhawatiran ini muncul karena kandungan enzim bromelain dalam nanas yang dianggap dapat melunakkan leher rahim. Padahal, kadar bromelain dalam satu buah nanas sangatlah sedikit dan tidak cukup kuat untuk memicu kontraksi rahim.
Selama nanas yang dikonsumsi adalah nanas matang dan dalam porsi yang normal, buah ini justru memberikan asupan vitamin C dan serat.
Berbeda dengan nanas, larangan memakan daging dan ikan setengah matang adalah sebuah fakta medis yang harus dipatuhi. Ibu hamil dilarang keras mengonsumsi makanan yang tidak dimasak hingga matang sempurna demi menghindari infeksi parasit Toxoplasma gondii (toksoplasma).
Kondisi infeksi ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan keguguran, terutama pada awal kehamilan atau trimester pertama. Dilansir dari buku Menjawab Mitos Kehamilan oleh Rafi A. Tino, toksoplasma dapat menyebabkan kelainan serius pada bayi yang sedang berkembang.
Kelainan tersebut meliputi kepala membesar akibat penumpukan cairan (hydrocephalus) atau bahkan kondisi bayi lahir tanpa sebagian tulang tengkorak (anencephaly). Pastikan semua produk hewani yang dikonsumsi sudah melalui proses pemasakan dengan suhu yang tepat.
Beberapa orang tua zaman dahulu sering melarang ibu hamil makan ikan karena khawatir bayi dan air ketuban akan berbau amis atau anyir. Faktanya tidak demikian. Rahim dan kantung ketuban tidak memiliki hubungan saluran langsung dengan saluran pencernaan makanan ibu.
Dilansir dari buku Mempersiapkan Kehamilan Sehat oleh Juni Januadi Endjun, ikan justru merupakan salah satu sumber makanan yang sangat sehat untuk ibu hamil. Di dalam ikan terkandung asam lemak Omega-3 (DHA dan EPA) yang sangat tinggi.
Kandungan ini terbukti efektif membantu perkembangan otak janin serta fungsi penglihatan. Selain itu, Omega-3 juga bermanfaat menjaga tekanan darah. Hindarilah konsumsi ikan yang memiliki potensi kandungan merkuri tinggi seperti ikan hiu, ikan pedang, dan makarel raja.
Dengan memahami berbagai fakta dan mitos ini, diharapkan ibu hamil tidak lagi merasa bingung atau takut dalam memilih asupan nutrisi. Semoga bermanfaat!
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.







