Kasus adu jotos antara murid dan guru yang terjadi di Kabupaten Tanjung Timur Provinsi Jambi saat ini terus menjadi perhatian publik. Bahkan terbaru, kasus adu jotos di SMK Negeri 3 itu berbuntut panjang hingga saling lapor ke polisi baik guru dan siswa.
Mengenai hal ini, Pakar pendidikan Jambi Profesor Dr. H. Mukhtar Latif, M.Pd ikut bersuara. Dia menyayangkan jika kasus yang seharusnya dapat terselesaikan secara baik berbuntut ke aksi saling lapor polisi.
“Untuk soal kasus yang lagi ramai ini, saya sangat mendukung jika ini bisa diselesaikan lewat jalur damai. Dimana kasus ini sangat membantu untuk memastikan jika persoalan ini bisa terselesaikan dengan baik dan secara kekeluargaan yang lebih damai bukan malah menuju aksi pelaporan ke polisi,” kata Muktar Latief kepada infoSumbagsel, Sabtu (17/1/2025).
Muktar juga mengatakan bahwa sekolah bagian penting dalam ruang mendidik. Baginya ruang mendidik harus diarahkan ke arah yang lebih baik, lebih bahagia dan lebih dirasakan lewat hati bukan sekadar ruang penegakan hukum.
Menurut Muktar, ketika terjadi konflik di sekolah ada baiknya segera diselesaikan dengan cara pemulihan hubungan, bukan semata-mata mencari siapa yang salah. Langkah mediasi untuk mencari jalan damai secara kekeluargaan itu sangat dibutuhkan ketimbang buntut saling lapor.
“Meski ini sudah dilaporkan ke pihak kepolisian, kita minta agar polisi untuk segera menjembatani antar kedua pihak baik guru dan beberapa siswa yang terlibat konflik, apalagi sebelumnya beberapa pihak juga telah melakukan upaya mediasi agar katakan konflik ini bisa berujung secara damai,” ujar Muktar.
Muktar juga menyampaikan jika Polisi tetap merujuk pada persoalan menyangkut dunia pendidikan. Jika setiap persoalan konflik di sekolah berujung pada aspek hukum maka dunia pendidikan tidak akan berjalan efektif.
“Kalau setiap persoalan ini langsung ke ranah kepolisian, katakan misalnya kalau murid ditetapkan tersangka, kan tidak tanggung-tanggung ada banyak bisa hampir satu kelas kan karena buntuk mereka beramai-ramai. Tapi jika seandainya guru yang bersalah, lalu guru ditetapkan tersangka, nanti bisa habis semua guru kita tersangka semua, istilah nya gitu, jadi aspek hukum saya rasa tidak akan menyelesaikan persoalan,” sebut Muktar.
Muktar juga menyoroti soal minimnya saat ini bagi guru kejuruan di Jambi. Maka dari itu, adanya langkah strategis dengan bentuk restorative justice menjadi upaya penting menjadikan konflik di sekolah berujung solusi yang adil dan berkeadilan.
“Jadi jangan sampai persoalan seperti ini berujung ke wilayah hukum ya. Kalau ini berujung pada persoalan hukum pasti siapapun pasti menjadi korban, kalau buruk nya istilah itu menang jadi arang kalah jadi abu, apalagi kita sedang menjaga pilar-pilar keluhuran kemulian marwah pendidikan. Pendidikan itu selalu berujung dengan ya keputusan, apapun seberat apapun dengan kemanusiaan dan tetap mengedepankan budaya dan peradaban,” jelas Muktar.
Muktar yang juga selaku Guru Besar Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi itu menyebut bahwa dunia pendidikan bukan semata berkaitan dengan kebencian atau balas dendam serta saling lapor kepolisian. Hal yang berkaitan seperti ini, katakan konflik disekolah sebut Muktar jika terus dilakukan dengan jalur hukum maka tidak akan menyelesaikan masalah.
“Jadi saya rasa tidak akan selesai kalau sudah main lapor melapor kalau masuknya ke wilayah ranah hukum. Maka saya pastikan itu tak akan selesai baik dengan secara damai dengan keindahan hati, jadi ke dua belah pihak untuk saling mengedepankan keikhlasan dan terpenting harus memastikan jika tidak akan terulang lagi dengan hal yang sama,” sebut Muktar.
Selain itu, Muktar juga meminta ke Pihak Disdik segera cepat melakukan upaya pencegahan. Upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali dengan cara istilah prinsip agama yakni hijrah.
“Hijrah kan mereka ini maksudnya jika disuatu tempat dimana sedang berkarya atau bekerja kurang kondusif tidak kondusif, maka hijrah. Terserah baik itu dua pihak atau satu pihak, supaya senang sama senang, yang penting Disdik harus carikan solusi, atau guru yang hijrah lebih gampang, ini mungkin solusi damai dimana penyelesaian yang paling baik didunia pendidikan,” ucap Muktar.
“Kita harus menjaga betul marwah dan nilai peradaban atau adab. Jadi jangan sampai peristiwa ini ke persoalan aspek hukum, ini harus menjadi bahan refleksi bersama. Kita berharap kejadian ini terulang hanya karena tidak adanya mekanisme penyelesaian konflik yang humanis di sekolah,” lanjutnya.
Bagi Muktar, penyelesaian melalui jalur damai dinilai dapat mencegah trauma berkepanjangan pada murid serta menjaga marwah dan wibawa guru sebagai pendidik. Jika kasus langsung dibawa ke ranah pidana, dikhawatirkan akan menimbulkan stigma negatif yang berdampak panjang terhadap masa depan siswa dan karier guru.
Pakar Pendidikan ini juga mendorong dinas pendidikan dan pihak sekolah untuk lebih aktif melakukan mediasi serta pendampingan psikologis. Ia menekankan pentingnya evaluasi sistem pembinaan siswa dan penguatan kompetensi guru dalam manajemen emosi serta komunikasi di ruang kelas.
Muktar juga terakhir mengingatkan pula, agar kedepan Dinas Pendidikan (Disdik) Jambi juga segera mengambil sistem evaluasi komplek. Dimana kejadian yang heboh dengan mencoreng dunia pendidikan seperti dimana murid dan guru adu jotos sangat begitu disayangkan.
Bagi Muktar, persoalan ini tidak lagi mencari siapa yang salah, melainkan kedamaian dengan hati dan menjaga marwah pendidikan. Selain soal itu, penting pula bagi Disdik yang memegang peran strategis dalam mengarahkan sekolah kejuruan agar tidak semata-mata berorientasi pada capaian nilai akademik dan penguasaan keterampilan teknis.
“Di tengah tantangan sosial yang kian kompleks, penguatan nilai-nilai keagamaan dan pembentukan adab yang baik menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan vokasi. Anak didik SMK dipersiapkan untuk langsung terjun ke dunia kerja dan masyarakat, sehingga mereka tidak hanya dituntut cakap secara keahlian, tetapi juga matang secara moral, etika, dan sikap, itu juga harus diperkuat,” terang Muktar.
Melalui kebijakan dan pembinaan yang terarah di sekolah kejuruan, Disdik juga didorong untuk segera mengintegrasikan pendidikan karakter, nilai keagamaan, serta pembiasaan adab dalam kegiatan belajar-mengajar maupun kultur sekolah.
“Penanaman nilai ini diyakini mampu membentuk pribadi peserta didik yang disiplin, bertanggung jawab, menghormati guru dan sesama, serta memiliki kontrol emosi yang baik. Dengan keseimbangan antara skill, akademik, dan akhlak, lulusan SMK tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap hidup bermasyarakat, menjadi generasi yang produktif sekaligus berkarakter, apalagi di dunia yang mana semua dimudahkan dengan sistem gadget,” kata Muktar.
Selanjutnya juga penting pula bagi Disdik mengevaluasi guru-guru di sekolah agar menjalankan fungsi dan tugas nya dengan baik.
“Bagaimana pun ada yang namanya bagi Disdik dalam mengevaluasi kinerja guru. Jadi intinya begitu, yang terpenting saya harap untuk kejadian ini harus dapat terselesaikan dengan cara yang sangat baik,” pinta Muktar.
Muktar yang juga selaku Guru Besar Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi itu menyebut bahwa dunia pendidikan bukan semata berkaitan dengan kebencian atau balas dendam serta saling lapor kepolisian. Hal yang berkaitan seperti ini, katakan konflik disekolah sebut Muktar jika terus dilakukan dengan jalur hukum maka tidak akan menyelesaikan masalah.
“Jadi saya rasa tidak akan selesai kalau sudah main lapor melapor kalau masuknya ke wilayah ranah hukum. Maka saya pastikan itu tak akan selesai baik dengan secara damai dengan keindahan hati, jadi ke dua belah pihak untuk saling mengedepankan keikhlasan dan terpenting harus memastikan jika tidak akan terulang lagi dengan hal yang sama,” sebut Muktar.
Selain itu, Muktar juga meminta ke Pihak Disdik segera cepat melakukan upaya pencegahan. Upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali dengan cara istilah prinsip agama yakni hijrah.
“Hijrah kan mereka ini maksudnya jika disuatu tempat dimana sedang berkarya atau bekerja kurang kondusif tidak kondusif, maka hijrah. Terserah baik itu dua pihak atau satu pihak, supaya senang sama senang, yang penting Disdik harus carikan solusi, atau guru yang hijrah lebih gampang, ini mungkin solusi damai dimana penyelesaian yang paling baik didunia pendidikan,” ucap Muktar.
“Kita harus menjaga betul marwah dan nilai peradaban atau adab. Jadi jangan sampai peristiwa ini ke persoalan aspek hukum, ini harus menjadi bahan refleksi bersama. Kita berharap kejadian ini terulang hanya karena tidak adanya mekanisme penyelesaian konflik yang humanis di sekolah,” lanjutnya.
Bagi Muktar, penyelesaian melalui jalur damai dinilai dapat mencegah trauma berkepanjangan pada murid serta menjaga marwah dan wibawa guru sebagai pendidik. Jika kasus langsung dibawa ke ranah pidana, dikhawatirkan akan menimbulkan stigma negatif yang berdampak panjang terhadap masa depan siswa dan karier guru.
Pakar Pendidikan ini juga mendorong dinas pendidikan dan pihak sekolah untuk lebih aktif melakukan mediasi serta pendampingan psikologis. Ia menekankan pentingnya evaluasi sistem pembinaan siswa dan penguatan kompetensi guru dalam manajemen emosi serta komunikasi di ruang kelas.
Muktar juga terakhir mengingatkan pula, agar kedepan Dinas Pendidikan (Disdik) Jambi juga segera mengambil sistem evaluasi komplek. Dimana kejadian yang heboh dengan mencoreng dunia pendidikan seperti dimana murid dan guru adu jotos sangat begitu disayangkan.
Bagi Muktar, persoalan ini tidak lagi mencari siapa yang salah, melainkan kedamaian dengan hati dan menjaga marwah pendidikan. Selain soal itu, penting pula bagi Disdik yang memegang peran strategis dalam mengarahkan sekolah kejuruan agar tidak semata-mata berorientasi pada capaian nilai akademik dan penguasaan keterampilan teknis.
“Di tengah tantangan sosial yang kian kompleks, penguatan nilai-nilai keagamaan dan pembentukan adab yang baik menjadi fondasi penting dalam proses pendidikan vokasi. Anak didik SMK dipersiapkan untuk langsung terjun ke dunia kerja dan masyarakat, sehingga mereka tidak hanya dituntut cakap secara keahlian, tetapi juga matang secara moral, etika, dan sikap, itu juga harus diperkuat,” terang Muktar.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Melalui kebijakan dan pembinaan yang terarah di sekolah kejuruan, Disdik juga didorong untuk segera mengintegrasikan pendidikan karakter, nilai keagamaan, serta pembiasaan adab dalam kegiatan belajar-mengajar maupun kultur sekolah.
“Penanaman nilai ini diyakini mampu membentuk pribadi peserta didik yang disiplin, bertanggung jawab, menghormati guru dan sesama, serta memiliki kontrol emosi yang baik. Dengan keseimbangan antara skill, akademik, dan akhlak, lulusan SMK tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap hidup bermasyarakat, menjadi generasi yang produktif sekaligus berkarakter, apalagi di dunia yang mana semua dimudahkan dengan sistem gadget,” kata Muktar.
Selanjutnya juga penting pula bagi Disdik mengevaluasi guru-guru di sekolah agar menjalankan fungsi dan tugas nya dengan baik.
“Bagaimana pun ada yang namanya bagi Disdik dalam mengevaluasi kinerja guru. Jadi intinya begitu, yang terpenting saya harap untuk kejadian ini harus dapat terselesaikan dengan cara yang sangat baik,” pinta Muktar.







