Bangunan Bersejarah di Bengkulu, Rumah Fatmawati hingga Benteng Marlborough

Posted on

Kota Bengkulu memiliki sejarah yang bersinggungan langsung dengan masa penjajahan. Kota Merah Putih ini menjadi saksi sejarah mulai dari Inggris sampai dengan Jepang yang meninggalkan jejak lewat bangunan bersejarah di Bengkulu.

Dilansir dari Sejarah Bengkulu dalam Tulisan Seorang Pangeran 1859 M: Suntingan Naskah Asal Usul Bangkahulu (ML 143) oleh Hafiful Hadi, Bengkulu memiliki sejarah panjang. Mulai dari penjajahan Inggris lalu Belanda, dan juga Jepang.

Ternyata, bukan hanya Benteng Marlborough, masih banyak bangunan bersejarah yang masih ada di Bengkulu. Lalu bangunan apa saja? Berikut artikel lengkapnya.

Soekarno pernah diasingkan di Bengkulu pada tahun 1938 hingga 1942. Tidak kurang dari 4 tahun, Soekarno menetap Bumi Rafflesia ini. Di sini dapat menjumpai barang barang yang pernah dimiliki Soekarno seperti sepeda, perpustakaan buku buku, dan barang lainnya.

Jika berkunjung ke Bengkulu dapat menjumpai rumah pengasingan Soekarno yang terletak di Anggut Atas atau sekarang disebut Jalan Soekarno-Hatta. Tepatnya di Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka.

Dikutip dari Buku Dari Fatmawati Hingga Puan Maharani dan Alam Minangkabau oleh Siti Fatimah, rumah ini awalnya milik pedagang Tionghoa Bernama Lion Bwe Seng yang disewa Belanda. Soekarno diasingkan bersama dengan istrinya, Inggit Garnasih dan anak angkatnya Ratna Djuami.

Bagi yang ingin mempelajari sejarah Bengkulu secara menyeluruh dalam satu tempat, Museum Negeri Bengkulu adalah lokasinya. Terletak di Jalan Pembangunan, bagian selatan jalan utama kota.

Museum ini menyimpan ribuan koleksi benda bersejarah. Di sini, pengunjung bisa melihat berbagai benda peninggalan zaman prasejarah, masa kolonial, hingga koleksi adat budaya dari berbagai suku yang ada di Bengkulu.

Koleksi yang dipamerkan meliputi pakaian pengantin tradisional, alat rumah tangga kuno, senjata tradisional, hingga naskah-naskah kuno yang mencatat kehidupan masyarakat di masa lampau.

Rumah Fatmawati, kediaman asli dari Ibu Negara pertama Republik Indonesia sekaligus penjahit bendera Sang Saka Merah Putih. Rumah panggung berbahan kayu ini menjadi destinasi wisata sejarah yang sangat populer karena nilai emosional dan peran besar Ibu Fatmawati dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Lokasinya berada di Anggut Kota Bengkulu, berjarak 600 meter dari rumah Soekarno. Namun demikian, ada pendapat lain yang menyebutkan rumah Fatmawati yang asli berada di Jalan S, Parman Kota Bengkulu. Saat ini telah berdiri Bank Negara Indonesia (BNI) 46 cabang Bengkulu.

Selama masa pengasingannya, Bung Karno tidak hanya berdiam diri. Beliau yang memiliki latar belakang pendidikan arsitektur turut menyumbangkan keahliannya untuk merenovasi Masjid Jami’ Bengkulu pada tahun 1938. Masjid ini terletak hanya berjarak 1,2 kilometer dari Benteng Marlborough.

Arsitektur masjid ini sangat unik karena memadukan budaya Tionghoa dan Jawa. Struktur atapnya berbentuk limas khas bangunan Jawa, namun jika dilihat dari kejauhan, bentuknya tampak menyerupai piramida.

Penggunaan tembok yang rendah dan perpaduan gaya arsitektur ini menjadikan Masjid Jami’ sebagai salah satu bangunan ikonik yang mencerminkan toleransi dan akulturasi budaya di Bengkulu.

Eksistensi masyarakat Tionghoa di Bengkulu juga meninggalkan jejak berupa kawasan Kampung Tionghoa yang terletak tidak jauh dari Benteng Marlborough. Kawasan ini merupakan pusat perdagangan lama yang mencerminkan keberagaman etnis di kota ini.

Dalam kampung Tionghoa terdapat 20 rumah bercorak khas Tionghoa. Ciri khasnya adalah atap lengkung dan pola jendela yang terdapat ventilasi di atasnya. Bangunan ini telah ada sejak masa Inggris.

Masyarakat Tionghoa yang tinggal di Kampung Cina mayoritas berasal dari Manna dan Muara Aman. Masyarakat Tionghoa dari Mana mayoritas bermata pencaharian berkebun. Sementara yang dari Muara Aman, bekerja di tambang emas.

Benteng pertahanan peninggalan penjajahan Inggris, merupakan benteng terbesar peninggalan Inggris di Asia Tenggara. Dialnsir dari Buku berjudul Benteng Karya Teguh Purwantari, Marlborough dahulunya adalah benteng terkuat kedua milik Inggris.

Lokasi benteng ini di Kota Bengkulu. Dibangun atas perintah Gubernur Joseph Collet pada tahun 1713 hingga 1719, pada masa penjajahan Inggris. Benteng Marlborough sendiri merupakan benteng dengan fungsi sebagai pusat pemerintahan Inggris dan basis pertahanan Inggris di Nusantara.

Bangunana bersejarah ini dibanguan di ketinggian 8,5 mdpl dan luas 44.100 m2. Pada pintu masuk terpasang prasasti klasik dengan tulisan “Richard Watts dan George Shan, son of M. Thomas Shan”. Di area benteng terdapat 3 makan orang Inggris Bernama Thomas Parr, Charles Murray, dan Robert Hamilton.

Panglima Sentot Ali Basya merupakan seorang panglima yang hidup di era Diponegoro serta ikut melawan penjajah. Ia merupakan orang yang berjasa namun aslinya bukan berasal dari Bengkulu.

Pangeran Sentot Prawirodirjo nama aslinya, merupakan panglima perang melawan penjajah di pulau Jawa pada 1825 sampai 1830. Kekalahan saat perang, membawa Sentot Ali Basya menjadi tawanan Belanda dan dibuang ke pulau Sumatera.

Makam Panglima Sentot Ali Basya di Jalan Sentot Alibasya, Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Jaraknya tak jauh dari jalan Raya, 200 meter dari pusat kota Bengkulu.

Inggris meninggalkan dua monumen penting sebagai bentuk peringatan atas peristiwa perlawanan rakyat Bengkulu yang menewaskan pejabat mereka. Monumen Parr, atau yang sering disebut Tugu Parr, terletak tepat di depan Pasar Barukoto, berseberangan dengan Benteng Marlborough.

Monumen ini dibangun untuk mengenang Thomas Parr yang tewas dalam sebuah kerusuhan. Selain itu, terdapat pula Monumen Hamilton yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta.

Monumen ini dibangun untuk memperingati Kapten Robert Hamilton yang juga tewas di Bengkulu. Keberadaan kedua monumen ini menjadi pengingat bahwa rakyat Bengkulu memiliki semangat perlawanan yang tinggi terhadap penjajah.

Salah satu tokoh besar Inggris yang pernah berkuasa di Bengkulu adalah Thomas Stamford Raffles. Jejak kantor pemerintahannya masih dapat ditemui sekitar 300 meter ke arah utara dari Benteng Marlborough.

Raffles merupakan pemimpin terakhir Inggris di Bengkulu sebelum wilayah ini diserahkan kepada Belanda melalui perjanjian internasional. Bangunan ini menjadi saksi bisu masa transisi kekuasaan besar di tanah Sumatera.

Kehadiran bangsa bangsa yang menjajah Bengkulu, menjadikan banyaknya peninggalan bersejarah. Bangunan bersejarah di Bengkulu menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.

9 Bangunan Bersejarah di Bengkulu

1. Rumah Pengasingan Bung Karno

2. Museum Provinsi Bengkulu

3. Rumah Fatmawati

4. Masjid Jami’ Bengkulu

5. Kampung Tionghoa

6. Benteng Marlborough

7. Persemayaman Panglima Sentot Ali Basya

8. Monumen Parr and Hamilton

9. Kantor Pemerintahan Thomas Stamford Raffles

Eksistensi masyarakat Tionghoa di Bengkulu juga meninggalkan jejak berupa kawasan Kampung Tionghoa yang terletak tidak jauh dari Benteng Marlborough. Kawasan ini merupakan pusat perdagangan lama yang mencerminkan keberagaman etnis di kota ini.

Dalam kampung Tionghoa terdapat 20 rumah bercorak khas Tionghoa. Ciri khasnya adalah atap lengkung dan pola jendela yang terdapat ventilasi di atasnya. Bangunan ini telah ada sejak masa Inggris.

Masyarakat Tionghoa yang tinggal di Kampung Cina mayoritas berasal dari Manna dan Muara Aman. Masyarakat Tionghoa dari Mana mayoritas bermata pencaharian berkebun. Sementara yang dari Muara Aman, bekerja di tambang emas.

Benteng pertahanan peninggalan penjajahan Inggris, merupakan benteng terbesar peninggalan Inggris di Asia Tenggara. Dialnsir dari Buku berjudul Benteng Karya Teguh Purwantari, Marlborough dahulunya adalah benteng terkuat kedua milik Inggris.

Lokasi benteng ini di Kota Bengkulu. Dibangun atas perintah Gubernur Joseph Collet pada tahun 1713 hingga 1719, pada masa penjajahan Inggris. Benteng Marlborough sendiri merupakan benteng dengan fungsi sebagai pusat pemerintahan Inggris dan basis pertahanan Inggris di Nusantara.

Bangunana bersejarah ini dibanguan di ketinggian 8,5 mdpl dan luas 44.100 m2. Pada pintu masuk terpasang prasasti klasik dengan tulisan “Richard Watts dan George Shan, son of M. Thomas Shan”. Di area benteng terdapat 3 makan orang Inggris Bernama Thomas Parr, Charles Murray, dan Robert Hamilton.

Panglima Sentot Ali Basya merupakan seorang panglima yang hidup di era Diponegoro serta ikut melawan penjajah. Ia merupakan orang yang berjasa namun aslinya bukan berasal dari Bengkulu.

Pangeran Sentot Prawirodirjo nama aslinya, merupakan panglima perang melawan penjajah di pulau Jawa pada 1825 sampai 1830. Kekalahan saat perang, membawa Sentot Ali Basya menjadi tawanan Belanda dan dibuang ke pulau Sumatera.

Makam Panglima Sentot Ali Basya di Jalan Sentot Alibasya, Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Jaraknya tak jauh dari jalan Raya, 200 meter dari pusat kota Bengkulu.

Inggris meninggalkan dua monumen penting sebagai bentuk peringatan atas peristiwa perlawanan rakyat Bengkulu yang menewaskan pejabat mereka. Monumen Parr, atau yang sering disebut Tugu Parr, terletak tepat di depan Pasar Barukoto, berseberangan dengan Benteng Marlborough.

Monumen ini dibangun untuk mengenang Thomas Parr yang tewas dalam sebuah kerusuhan. Selain itu, terdapat pula Monumen Hamilton yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta.

Monumen ini dibangun untuk memperingati Kapten Robert Hamilton yang juga tewas di Bengkulu. Keberadaan kedua monumen ini menjadi pengingat bahwa rakyat Bengkulu memiliki semangat perlawanan yang tinggi terhadap penjajah.

Salah satu tokoh besar Inggris yang pernah berkuasa di Bengkulu adalah Thomas Stamford Raffles. Jejak kantor pemerintahannya masih dapat ditemui sekitar 300 meter ke arah utara dari Benteng Marlborough.

Raffles merupakan pemimpin terakhir Inggris di Bengkulu sebelum wilayah ini diserahkan kepada Belanda melalui perjanjian internasional. Bangunan ini menjadi saksi bisu masa transisi kekuasaan besar di tanah Sumatera.

Kehadiran bangsa bangsa yang menjajah Bengkulu, menjadikan banyaknya peninggalan bersejarah. Bangunan bersejarah di Bengkulu menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama.

5. Kampung Tionghoa

6. Benteng Marlborough

7. Persemayaman Panglima Sentot Ali Basya

8. Monumen Parr and Hamilton

9. Kantor Pemerintahan Thomas Stamford Raffles