Khutbah Jumat dibacakan sebelum pelaksanaan salat bagi Muslim laki-laki. Untuk Jumat pekan ini, 16 Januari 2026 bertepatan dengan peringatan Isra Miraj. Untuk itu, khatib bisa membacakan khutbah Jumat tentang Isra Miraj.
Sebagai peristiwa penting dalam sejarah Islam, Isra Miraj dapat disampaikan saat khutbah Jumat. Berbagai hikmah dan pesan perjalanan Rasulullah SAW menjadi kekuatan iman bagi umat Muslim.
Berikut contoh teks khutbah Jumat tentang Isra Miraj yang dihimpun infoSumbagsel dari laman NU Online, Kemenag, serta berbagai sumber buku lainnya. Simak rangkumannya di bawah ini.
Khutbah ini dikutip dari NU Cilacap. Berikut teks lengkapnya:
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ الْحَمْدُ لله الذي مُقَلِّبِ الْقُلُوْبِ، وَعَلامِ الْغُيُوبِ، وَقَابِلِ التَّوْبَةِ مِمَّنْ يَتُوْبُ، شَدِيدِ الْعِقَابِ عِنْدَ قَسْوَةِ الْقُلُوْبِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ كَانَ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ : يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَله وَصَحْبِهِ مَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بتقو الله وقد فاز المتقون
Ma’asyiral muslimin Rahimakumullah,
Pertama-tama marilah kita bersama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah swt. dengan sesungguh hati. Karena kesungguhan dalam bertaqwa akan berimplikasi dalam sikap laku taat terhadap syariat dan menghindar dari maksiat. Sesungguhnya syariat bawaan rasul Muhammad adalah kebenaran mutlaq yang tidak bisa di- ragukan lagi. Shalat, zakat, puasa dan haji menjadi bukti formal ketaatan seseorang dalam ber-Islam.
Bulan Rajab adalah bulan istimewa, bulan yang yang memuat banyak makna. Makna-makna itu muncul dari anugerah Allah swt dalam memberikan keistimewaan bagi Rasul tercinta-Nya Muhammad saw; berupa perjalanan spiritual Isra Mi’raj.
Seperti telah masyhur diceritakan bahwa diantara kejadian istimewa yang terjadi pada diri Rasulullah saw sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai adalah pembedahan hati (membersihkan hati) oleh malaikat Jibril dan Mikail as untuk selanjutnya dicuci dengan air zam-zam tiga kali dan diisinya hati mulia itu dengan hikmah dan iman.
Atas uraian tersebut, kami mengambil Khutbah Membersihkan Hati sebagai judul khutbah jumat kali ini.
Pembedahan hati ini pada bagian awal sebelum memasuki inti cerita perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, untuk selanjutnya diteruskan hingga Sidratul Muntaha. Inilah yang menjadi fokus khutbah kali ini.
Mengapa hati yang dibelah dan dibersihkan? kenapa bukan usus atau ginjal yang mempunyai peran penting dalam metabolism tubuh? Yang secara biologis lebih kotor dan selalu bersinggungan dengan makanan? Atau alat pencuci anggota tubuh lainnya yang menjadi jalur kotoran bagi manusia? Dan mengapa pula pembedahan ini dilakukan sebelum perjalanan, kenapa tidak setelah perjalanan usai? Atau di tengah perjalanan?
Jama’ah Jum’ah yang Berbahagia,
Sesungguhnya dalam kejadian ini terdapat hikmah yang sangat dalam. Semakin tinggi kadar kepandaian spiritual seorang manusia, akan semakin dalam ia memaknai sebuah hikmah. Namun, sebagai seorang yang minim pengetahuan khatib hanya dapat mengingatkan beberapa hal di balik kejadian tersebut yang mungkin telah banyak dipahami tetapi sering dilupakan dan diabaikan.
Bahwa hati adalah hal terpenting dalam diri manusia. Hati sebagai pusat metabolism keimanan dan ketaqwaan. Bagaikan pilot, hati mengarahkan kehidupan spiritual manusia, dan kualitas spiritual itu secara langsung turut
menentukan dan mempengaruhi laku social seseorang. Karena itu sebuah hadits yang masyhur tentang hati perlu saya tegaskan di sini:
إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله ، و إذا فسدت فسد الجسد كله ألا و هي القلب ” ( متفق عليه)
Sesungguhnya di dalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging, apabila gumpalan itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu. Namun jika gumpalan itu jelek, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ingatlah… gumpalan itu adalah hati. (hadits ini disepakati kesahihannya oleh semua ahli hadits)
Betapa pentingnya posisi hati bagi tubuh dan diri manusia. Betapa hati menjadi satu-satunya perkara yang menentukan tubuh dan diri manusia. Karena sebuah pribahasa Arab mengatakan:
القلب ملك ، و الأعضاء جنوده ؛ فإذا صلح القلب ، صلحت الرعية ، و إذا فسد ، فسدت.
Hati bagaikan raja, dan balatentaranya adalah amggota tubuh manusia. Jikalau baik sang hati, maka baiklah rakyatnya. Namun jika rusak sang hati rusaklah segalanya.
Dengan demikian, apa yang terjadi pada diri Rasulullah saw adalah simbol bagi umatnya, bahwa hati adalah perkara yang paling penting untuk dirawat mengalahkan berbagai anggota lainnya. Menyehatkan hati dan meriasnya jauh lebih penting daripada merias wajah, dari pada bersolek tubuh, bahkan lebih penting dari pada mengasah otak.
Inilah yang sering kita lupakan. Hati tidak lagi menjadi panglima dalam kehidupan ini. Sejak lama kedudukannya telah tergantikan oleh otak yang mengandalkan logika dan rasio. Padahal berbagai pertimbangan keadilan dan kebenaran sumbernya adalah hati, bukan otak. Karena itu tidak salah apa yang Imam al-Ghazali sampaikan dalam Ihya’ Ulumuddin
إستفت قلبك ولوأفتوك وأفتوك وأفتوك
Mintalah petunjuk pada hati (kecil) mu, walaupun mereka memberikan petunjuk padamu, walaupun mereka memberikan petunjuk padamu, walaupun mereka memberikan petunjuk padamu.
Maka jikalau hendak memutuskan sebuah keadilan maka pertama kali bertanyalah kepada hati kecil, jangan bertanya dulu kepada bukti yang ada di Tempat Kejadian Perkara. Karena semua itu bisa di- palsukan oleh otak dan logika.
Jika hati membawa kita kepada kebaikan universal, sedangkan otak hanya akan mengantarkan kita kepada kebaikan parsial, kebaikan yang telah tercampur dengan berbagai kepentingan.
Rasulullah saw adalah seorang yang ma’shum terjaga dari salah dan dosa, walaupun tanpa dibedah dan dicuci hatinya oleh malaikat. Bagaimanakah dengan kita? Bagaimana merawat hati kita dan menghiasnya agar tetap jernih dan mampu menjadi pelita bagi diri dan tubuh ini? Agar selalu terawat hindarkanlah hati kita dari 4 (empat) perkara (penyakit); yaitu riya’, ujub, takabbur, serta hasad.
1. Riya’ adalah pamer, Penyakit Hati berupa Riya menurut imam al-Ghazali adalah, mencari kedudukan di hati manusia dengan cara melakukan ibadah dan amal. Dengan kata lain riya’ selalu saja mengajak manusia untuk mencari modus dalam setiap kelakuan dan amalnya.
2. ‘Ujub. Menurut imam al-Ghazali ujub adalah sifat merasa diri serba berkecukupan dan berbangga hati atas nikmat yang ada, dan lupa jika kelak akan sirna, Penyakit Hati berupa ujub merupakan induk dari sifat takabur, bedanya jika takabur berdampak pada pihak yang ditadabburi, kalau ujub terbatas pada dirinya sendiri. Sabda Rasulullah saw; “ujub itu bisa memakan amal amal baik sebagaimana api makan kayu bakar” (al-hadist)
3. Takabur adalah penyakit hati di mana tanda tandanya antara lain merasa dirinya lebih sempurna dari yang lainnya, kesombongan adalah kemaksiatan yang pertama dilakukan oleh makhlukNya (iblis) terhadap
Allah swt. Firman Allah swt; Turunlah engkau dari surga karena engkau menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk orang orang yang hina” (Al-A’raf:13)
4. Hasad atau dengki adalah juga bagian dari Penyakit Hati. Untuk menjelaskan hal ini cukuplah petikan seorang sufi dalam kitab Risalah Qusyairiyah “Orang dengki adalah orang yang tak beriman sebab dia tidak merasa puas dengan takdir Allah.” Sementara ulama yang lain berpendapat orang yang dengki adalah orang yang selalu ingkar karena tidak rela orang lain mendapatkan kenikmatan. Indikasi dari sifat dengki adalah menipu apabila di hadapan orang lain, mengumpat apabila orang lain itu pergi, dan mencaci maki apabila musuh tak kunjung tiba pada orang itu”
Mengenai pendalaman keempat penyakit ini sudah bisakah kiranya kita meraba diri masing-masing. Selaku khatib saya hanya bisa mengingatkan saja, saya merasa belum pantas untuk memberikan nasehat. Namu yang jelas, biasanya ke 4 (empat) penyakit hati tersebut saling terkait antara satu dan lainnya. Sehingga apabila mengidap salah satu maka dapat pula mengidap yang lainnya.
Para Hadirin Jamaah Jumat yang Mulia,
Dalam Khutbah membersihkan hati ini, ada pertanyaan; lantas bagaimana cara membersihkan dan menghias hati? Imam al-Ghazali berpesan dalam kitab Mizanul ‘Amal, bahwa hendaknya hiasi hati dengan 4 (empat) induk kesalehan, yakni hikmah, kesederhanaan (‘iffah), keberanian (syaja’ah) dan keadilan (‘adalah).
Beliau menjelaskan bahwa kerelaan memaafkan orang yang telah menzaliminya adalah kesabaran dan keberanian (syaja’ah) yang sempurna. Kesempurnaan ‘iffah terlihat dengan kemauan untuk tetap memberi pada orang yang terus berbuat kikir terhadapnya. Sedangkan kesediaan untuk tetap menjalin silaturrahim terhadap orang yang sudah memutuskan tali persaudaraan adalah wujud dari ihsan yang sempurna.
Demikianlah khutbah jumat membersihkan hati, semoga kita semua dapat menarik hikmah dari bulan Rajab ini. Mengapa Allah memerintahkan Malaikat Jibril dan Mikail membedah dada dan mencuci hati Rasulullah? Bukan karena di hati Rasulullah Muhammad SAW terdapat kotoran, bukan. Karena beliau adalah ma’shum.
Namun semua itu adalah perlambang bagi kita selaku umatnya. Bahwa membersihkan, merawat dan menghias hati adalah pekerjaan utama yang harus didahulukan dari lainnya. seperti halnya Allah swt mendahulukan pembedahan dan pencucian hari Rasulullah sebelum melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Semoga kita semua terhindar dari penyakit hati, dan khutbah membersihkan hati ini bermanfaat untuk kita semua
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ فَيا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواللَّهُ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ الْيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشَّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المَوَحَدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِينَ وَ دَمِرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاغْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ المُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ عِبَادَ اللَّهِ ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُ والله العَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُّكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرْ
Teks khutbah berikut dikutip dari buku Kumpulan Khutbah Jumat dan Hari Raya karya Khairul Hamim. Ini teks lengkapnya:
الْحَمْدُ اللَّهُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الَّذِي جَعَلَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَفِيَّهُ وَحَبِيبَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوثُ الْمَمْلُوْءُ بِالْهُدَى وَالرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد ﷺ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أما بعده:
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!
Melalui mimbar ini khatib mengajak hadirin semua agar selalu meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SAW karena dengan iman dan takwa itu kita dapat hidup dengan tenang, aman, damai, dan bahagia di dunia maupun di akhirat.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah!
Dalam syariat Islam, peristiwa Isra’ dan Mi’raj dikenang sepanjang masa dan diperingati sebagai peristiwa besar. Kejadiannya memang selalu menarik untuk dikaji dan dicermati, karena terjadi dalam suasana peradaban yang tergolong terbelakang dari sisi sains dan teknologi.
Nabi Muhammad SAW telah mengalami perjalanan yang sangat mengherankan, bahkan bisa disebut mustahil. Selain bercerita, kalau telah melakukan perjalanan malam dari Makkah ke Palestina yang berjarak sekitar 1500 km dalam waktu setengah malam saja. Bagi masyarakat pada waktu itu, perjalanan tersebut, sama sekali tidak masuk akal, sehingga menimbulkan kehebohan dan cemoohan, menganggap Muhammad bohong belaka.
Akan tetapi mereka pun ragu karena Muhammad dikenal sebagai orang yang tidak pernah bohong dari sejak kecilnya. Kejadian itu bagi orang sekarang bukanlah suatu yang mengherankan mengingat perkembangan teknologi transportasi yang semakin canggih, seperti mobil, kereta api cepat dan pesawat terbang.
Jarak antara Makkah dan Palestina bisa ditempuh dengan yang waktu jauh lebih cepat dibandingkan dengan kuda atau unta yang memakan waktu berbulan-bulan bagi masyarakat pada zaman itu. Yang sangat tidak bisa dicerna oleh akal pikiran orang-orang di zaman itu dan juga oleh orang-orang di zaman modern ini adalah pada perjalanan tahap kedua yaitu perjalanan Mi’raj.
Mi’raj yaitu melakukan perjalanan dari Masjidil Aqsha di Palestina menuju langit yang ketujuh. Peristiwa itu merupakan kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada manusia akan kebesaran-Nya, keagungan-Nya, dan kemahakuasaan Allah swt.
Allah mampu atau qadirun untuk melakukan apa saja yang menurut akal manusia tidak mampu untuk dilakukan, meskipun belakangan ini secara berangsur-angsur ilmu pengetahuan modern mulai bisa melihat celah-celah kemungkinan pemahaman dan pembuktian terhadap peristiwa itu.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj sarat dengan pemahaman ilmu pengetahuan mutakhir. Hal ini menunjukan bahwa ajaran Islam mengandung pelajaran yang sangat canggih yang berlaku sampai akhir zaman.
Ditafsirkan secara sederhana seperti pada zaman Rasulullah SAW bisa ditafsirkan dengan ilmu pengetahuan mutakhir pun semakin mempesona. Untuk memahami hikmah yang terkandung dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj tersebut marilah kita kutip firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al- Isra’:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah MAha Mendengar lagi Maha melihat”
Cerita tentang Isra’ dan Mi’raj di dalam firman Allah tersebut di atas, dimulai dengan kata Subhanallazi Maha Suci Allah. Yang kata ini memiliki makna yang sangat mendalam untuk memulai pemahaman kita. Dan ini menandakan bahwa Allah SWT ingin memberikan pengajaran kepada kita bahwa perjalanan Rasulullah SAW, ini bukanlah perjalanan biasa melainkan sebuah perjalanan luar biasa.
Dalam Islam kata Subhanallah diajarkan untuk diucapkan ketika kita menemui suatu kejadian yang luar biasa atau menakjubkan, misalnya ketika melihat ciptaan Allah yang Maha dahsyat di alam semesta, kita dianjurkan untuk mengucapkan Subhanallah.
Ketika Allah memulai ayat Al-Isra’ tersebut dengan kata Subhanallah terkesan dalam pikiran kita bahwa Allah akan bercerita sesuatu yang luar bisa di kalimat-kalimat berikutnya. Selain itu penegasan-penegasan dibagian akhir ayat ini juga menggambarkan betapa semua itu memang menunjukkan Maha Perkasa dan Maha agungnya Allah swt, Sang Penguasa alam semesta.
Berikutnya kata “Asra” memperjalankan. Kata ini memberikan makna yang penting buat kita dalam memahami peristiwa tersebut, bahwa ternyata perjalanan luar biasa itu memang bukan kehendak Rasulullah sendiri, melainkan kehendak Allah SWT.
Allah lah yang telah memperjalan Muhammad SAW, dengan kata lain bahwa Rasulullah SAW. tidak akan bisa melakukan perjalanan tersebut atas kehendaknya sendiri. Perjalanan ini memang terlalu dahsyat bagi seorang manusia jangankan manusia biasa Rasulullah SAW pun tidak bisa jika tidak diperjalankan oleh Allah SWT.
Karena itu Allah mengutus malaikat Jibril untuk membawa Nabi melintasi ruang dan waktu di dalam alam semesta Allah SWT. Jibril sengaja dipilih oleh Allah untuk mendampingi perjalanan beliau, karena Jibril adalah makhluk dari langit ketujuh yang berbadan cahaya, dengan badan cahayanya itu, Jibril bisa membawa Rasulullah SAW melintasi dimensi yang tak kasat mata.
Selanjutnya kata bi’abdihi (hambanya) menggambarkan bahwa Rasulullah diperjalankan sebagai manusia seutuhnya, artinya jiwa dan raga karena kata hamba memang menunjuk kepada totalitas dari seorang manusia, tidak sembarang orang bisa melakukan perjalanan seperti yang dialami Rasulullah, yang bisa melakukan perjalanan luar biasa itu, hanya seorang yang sudah mencapai tingkatan tertentu di dalam kualitas beragamanya, yaitu Abdihi- hamba Allah.
Seorang hamba Allah adalah orang yang memiliki derajat sangat tinggi dihadapan Allah, karena orang semacam ini telah meniadakan “aku” alias “ego”nya yang ada hanya Allah semata di dalam hidupnya.dia tidak memiliki keinginan pribadi, yang ada hanya keinginan Allah.
Dia telah berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Inilah puncak tertinggi didalam proses beragama. Karena sesungguhnya dia telah bisa mengaplikasikan kalimat La ilaha illallah dengan sebenar-benarnya.
Kemudian Allah SWT menginformasikan bahwa perjalanan itu dilakukan “lailan” pada malam hari. Kenapa tidak siang hari saja? Mengingat bahwa peristiwa ini adalah sebuah perjalanan yang dikendalikan Allah lewat mekanisme yang sangat canggih, badan Nabi diubah menjadi badan cahaya oleh jibril, agar Nabi bisa mengikuti kecepatan Malaikat dan Buraq.
Sedangkan pada siang hari radiasi sinar matahari demikian kuatnya sehingga bisa membahayakan badan Rasulullah yang sebenarnya memang bukan badan cahaya. Badan Nabi yang sesungguhnya adalah materi. Perubahan menjadi badan cahaya itu hanya bersifat sementara sesuai kebutuhan untuk melakukan perjalanan bersama Jibril.
Perjalanan malam hari memiliki makna yang sangat penting buat kelancaran perjalanan baliau dan sangat penting dalam melakukan komunikasi dengan Allah SWT. Sebagai contoh Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan shalat malam yang bernilai sangat tinggi yaitu shalat tahajjud. Karena pada malam hari jiwa kita bisa menjadi lebih fokus dan khusyuk. Allah berfirman dalam Surat Al-Muzammil: 6
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلاً
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Kalimat: من المسجد الحرام إلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى
(Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha). Mengapa Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari Masjid ke Masjid? Hal ini tentu ada makna yang tersembunyi di dalam informasi ini.
Masjid adalah suatu tempat yang banyak menyimpan energi positif, karena Masjid terus menerus digunakan untuk melakukan proses peribadatan yang menghasilkan energi positif. Sebagaimana diketahui bahwa energi positif dari berbagai ibadah kita bakal berimbas ke tempat sekitar.
Sebagai contoh; Rumah yang sering kita pakai untuk shalat malam, zikir, baca Al-Quran dan sebagainya akan terasa dingin dan menyejukkan serta membuat kita kerasan, mengapa? Karena energi doa kita telah berimbas ke lingkungan rumah kita, maka dapat dibayangkan betapa besarnya energi positif yang tersimpan di dalam Masjid, khususnya Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.
Kedua Masjid itu telah berumur ribuan tahun dan selama ribuan tahun itu pula digunakan untuk kegiatan-kegiatan peribadatan yang menghasilkan energi positif, sehingga sungguh di tempat itu menyimpan energi yang sangat dahsyat.
Lalu apa kaitannya dengan perjalanan Rasulullah SAW? terkait dengan badan Nabi yang telah diubah menjadi badan energi atau cahaya, maka banyak hal yang harus disesuaikan dengan perubahan itu termasuk tempat keberangkatan dan kedatangan beliau.
Selanjutnya, kata-kata: يَا رَكْنَا حَوْلَهُ (Kami berkahi sekelilingnya) Menggambarkan betapa Allah terus mengendalikan proses perjalanan tersebut. Dia memberkahi sekelilingnya supaya tidak muncul kendala yang berarti.
Sejak awal Allah SWT telah mengutus Malaikat Jibril untuk mendampingi Rasulullah SAW mulai dari persiapan jiwa raganya, sampai memandu apa yang harus dilakukan oleh Nabi. Kemudian perjalanannya pun dilakukan dari Masjid ke Masjid.
Dan selama perjalanan tersebut Allah masih memberikan berkahNya supaya tidak terjadi gangguan-gangguan gelombang yang membahayakan badan energi Nabi Muhammad SAW. Sebab jika tidak dilindungi secara khusus badan Nabi bisa mengalami proses balik menjadi badan material lagi sebelum waktunya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Apa tujuan dari perjalanan itu? Lanjutan ayat tersebut لنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاً )agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami). Sebagian ulama berpendapat bahwa perjalanan tersebut bermaksud untuk memantapkan hati Rasulullah setelah beliau mengalami tekanan bertubi-tubi dalam perjuangan menyebarkan Agama Islam.
Tahun-tahun menjelang keberangkatan Isra’ Mi’raj itu Rasulullah mengalami boikot ekonomi dari orang-orang kafir Quraisy, disusul dengan meninggalnya istri beliau tercinta Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib yang sangat besar peranannya dalam membantu perjuangan beliau.
Maka Nabi sangat prihatin dan tertekan, sehingga Allah memerintahkan Nabi agar melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut, untuk memberikan keyakinan dan motivasi atas perjuangannya kembali.
Hal-hal semacam ini memang terjadi juga pada para Rasul sebelumnya, seperti terjadi pada Nabi Musa, Nabi Yunus, Nabi Ibrahim, dan Nabi-Nabi yang lain.
Itulah salah satu tujuan Allah SWT memperjalankan Rasulullah SAW lewat peristiwa Isra’ Mi’raj meskipun Rasulullah seorang yang Ummi (buta huruf) bukan berarti beliau tidak memiliki ilmu tentang alam sekitarnya, bahkan beliau memiliki ilmu yang sangat tinggi yang terlentang dari langit pertama sampai langit ke tujuh.
Ilmu-ilmu tersebut diajarkan Allah kepada Rasulullah SAW tidak lewat tulisan melainkan lewat pengalaman empiris langsung masuk ke dalam hati beliau sebagai sebuah pemahaman, bukan sekedar ingatan atau memori dalam otak.
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Kalimat Maha Mendengar dan Maha Melihat ini dimaknai bahwa Allah telah memberikan sebagian sifat Sama dan Bashar itu kepada Rasulullah SAW benar-benar dalam kejadian penuh sehingga bisa mendengar dan melihat berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah di rute yang beliau lewati dan memang ini sesuai dengan tujuan itu bahwa Allah ingin memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya agar Rasulullah SAW semakin yakin kepada-nya.
Demikianlah sekilas hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW semoga dapat memberikan pemahaman bagi kita semua. Amin ya Rabbal Alamin.
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ عَظِيْمِ. وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمَنْكُمْ تَلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهُ الْعَظِيمِ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتُ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.
لحَمْدُ لله نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُعُوْذُ با الله مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مِنْ يَهْدِى اللَّهِ فَلَا مُضِلَّ لَه وَمَن يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّلهُمَّ صَلى وَ سَلَّمْ عَلَى هذا الرَّسُول العظيم وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ مِن تبعه بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. اتقوا الله وَطَاعَتِهِ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْن
Hadirin jamaah jum’at yang berbahagia!
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT berkat karunia-Nya kita telah berada dalam Bulan Rajab tahun ini dalam keadaan sehat walafiat.
Bulan Rajab merupakan salah satu bulan dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran Surat al-Taubah: 36
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماواتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah 12 bulan dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada 4 bulan yang dihormati”
Banyak hadis Nabi menganjurkan supaya kita banyak berbuat amal shaleh dalam bulan Rajab ini terutama melakukan shalat sunat, bertaubat dan bersedekah. Sebab beramal shalih pada Bulan Rajab dilipatgandakan pahala amal ibadahnya.
Rasulullah SAW bersabda dalam H.R Baihaqi dan Anas:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ لَهُ رَجَبُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَن وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبَ سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَالِكَ النَّهَرُ
“Di dalam surga ada sebuah sungai yang diberi nama Sungai Rajab, airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis daripada madu. Barang siapa berpuasa pada Bulan Rajab akan diberi Allah meminum air sungai Rajab itu.”
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah SWT
Pada bulan Rajab ini pula umat Islam selalu memperingati peristiwa yang amat penting dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad SAW dan penting juga bagi Umat Islam yaitu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi dari Masjidil Haram menuju ke Masjidil Aqsha dan terus naik ke Sidratul Muntaha di langit yang ke-7.
Apabila kita kaji secara seksama maka Isra’ Mi’raj akan mempunyai beberapa nilai atau maksud tertentu antara lain:
Pertama, bagi Nabi adalah sebagai penghibur disaat Nabi mendapat kesusahan yaitu istri beliau yang bernama Siti Khadijah meninggal dunia. Siti Khadijah bukan saja istri beliau dalam rumah tangga tetapi Siti Khadijah merupakan orang pertama yang membela agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebelum orang lain membelanya.
Di samping itu dari Khadijah Nabi banyak pengalaman tentang berdagang ke tempat-tempat yang jauh dari Saudi Arabia, oleh sebab itu setelah Siti Khadijah wafat maka Nabi Muhammad dirundung kesedihan yang mendalam sebab pada saat itu agama Islam belum berkembang dan masih banyak musuh-musuh Islam yang ingin menggagalkan misi Nabi Muhammad SAW.
Kedua, bagi umat islam Isra’ Mi’raj mempunyai arti yang amat penting sebab sejak saat itu syariat Islam mewajibkan umatnya untuk melakukan shalat lima waktu, shalat ini kalu kita kaji terutama di zaman pesatnya perkembangan teknologi modern sekarang ini ternyata amat bermanfaat bagi kehidupan manusia, bahkan semakin modern dunia ini semakin perlu umat manusia melakukan shalat lima waktu, mengapa demikian?
Hadirin kaum muslimin yang berbahagia,
Di dalam diri manusia terdapat dua tuntutan atau dorongan yang selalu berlawanan yaitu dorongan nafsu hayawaniah yang menuntut suatu kepuasan jasmani semaksimal mungkin. Penjabaran dari nafsu ini menimbulkan beberapa nafsu antara lain: nafsu ekonomi, nafsu kuasa dan nafsu syahwat.
Kemudian dorongan yang berlawanan dengan nafsu tersebut di atas ialah dorongan super ego atau rasa ketuhanan atau nafsu mutmainnah atau nafsu ketenangan. Dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini, maka dorongan atau nafsu hayawaniah dipacu atau dirangsang untuk bekerja lebih keras. Manusia akhirnya terlibat dalam tuntutan jasmaniah yang makin tak terbatas.
Akhirnya manusia menjadi stress, tertekan dan mendapat 1001 macam gangguan psikologis sehingga mempengaruhi kesehatan jasmani. Dengan shalat maka manusia diarahkan konsentrasinya menuju kepada Allah SWT sebab di dalam shalat terdapat persyaratan mutlak yang harus dipenuhi manusia yaitu “khusyuk” dalam shalat, maksudnya di saat shalat orang tidak boleh memikirkan yang lain kecuali kepada Allah SWT.
Kalau dalam dorongan nafsu hayawaniah manusia dipaksa untuk stress dalam memenuhi kebutuhan jasmaniahnya, sedangkan dalam shalat justru manusia dipaksa untuk meninggalkan stress atau desakan jasmaniah yang semakin keras tersebut.
Dapat dikatakan bahwa dorongan nafsu jasmaniah ibarat kendaraan yang bekerja terus menerus, sedangkan dalam shalat ibarat kendaraan yang diistirahatkan secara maksimal. Dengan istirahat yang tertib dan maksimal inilah, diharapkan mesin atau onderdil kendaraan dapat lebih tahan lama, tetapi sebaliknya, bagi kendaraan yang dipaksa terus menerus tanpa istirahat maka kendaraan tersebut dapat dipastikan akan menjadi rapuh, aus, dan akhirnya rusak sama sekali.
Demikianlah kepentingan shalat bagi manusia di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi modern saat ini.
Ketiga, bagi kepentingan tauhid, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak lain adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah Tuhan yang Maha Esa, sehingga manusia sadar akan kekurangan dan kelemahannya, hal ini telah ditunjukkan dalam Surat Al Isra’: 1.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرام إلى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya padamalam hari dari Masjidil Haram (di Makkah) menuju Masjidil Aqsha (di Israel) dimana telah diberkahi di sekitarnya (Muhammad) untuk menunjukkan sebagian dari Maha Kekuasaan allah. Sesungguhnya Dialah zat yang Maha Mendengar dan melihat.”
Berdasarkan ayat ini dapat dipahami bahwa Nabi diperjalankan benar-benar dengan ruh dan jasadnya untuk meninggalkan bumi menuju ke langit yang ke-7 yang amat jauh dari bumi. Bagaimana Nabi dapat dijalankan kesana?
Dalam ayat tersebut Nabi dibekali dengan kekuatan supranatural oleh Allah SWT dengan tujuan untuk merangsang kepada manusia dalam meneliti sampai seberapa jauh kekuatan supranatural itu dibanding dengan manusia biasa.
Dengan penelitian tersebut akhirnya manusia mengetahui betapa hebatnya kekuasaan dan kekuatan Allah bila dibandingkan dengan kekuatan manusia. mempertunjukkan sebagian dari kekuasaan atau tanda-tanda kekuatan manusia لنريه من اياتنا untuk mempertunjukkan sebagian dari kekuasaan atau tanda-tanda kekuatan kami.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah,
Selanjutnya mari kita telusuri lebih lanjut tentang jarak antara bumi dengan langit ke-7 (sidratul muntaha) yang telah dilalui oleh Rasulullah SAW, menurut ilmu pengetahuan modern. Untuk menambah keyakinan atas ke-Mahakuasaan Allah SWT.
Di kota Mount Palomar salah satu kota dari Negara bagian Amerika Serikat terdapat teropong bintang atau teleskop yang terbesar di dunia. Menurut pengamatan alat ini daerah langit yang mampu dijangkau oleh alat tersebut adalah sejauh 5 triliun tahun cahaya (5 juta-juta tahun cahaya).
Apabila luas ini dihitung dengan kilometer, maka jarak antara bumi dan langit = 47.304.000 triliun kilometer. Menurut teori kecepatan cahaya atau sinar mempunyai kecepatan per satu info sama dengan 300.000 kilometer. Artinya kalau ada suatu benda yang bergerak dengan kecepatan 300.000 kilometer per info, maka benda itu akan terbakar atau berubah menjadi cahaya.
Di dunia sekarang, manusia baru mampu membuat kendaraan berkecepatan sepuluh kilometer per info, kalau dengan kecepatan ini maka jarak antara bumi dengan langit dapat ditempuh oleh kendaraan manusia selama 150.000 triliun tahun (150.000 juta juta tahun).
Kalau seandainya kecepatan kendaraan dunia 100 kilometer per info, maka dapat ditempuh oleh kendaraan manusia selama 15.000 triliun tahun.
Bila kecepatan kendaraan 100.000 kilometer per info, maka waktu yang digunakan untuk mencapai langit yang ke-7 adalah 15 juta-juta tahun (15 triliun). Tetapi dalam teori atom, bahwa apabila ada kendaraan yang berkecepatan 100.000 kilometer per info, maka kendaraan tersebut berubah menjadi atom, berarti tidak mungkin ada kendaraan yang berkecepatan 100.000 kilometer per info.
Kita ambil misalnya kecepatan kendaraan bumi paling cepat 50.000 kilometer per info, maka langit yang terjauh dari bumi dapat ditempuh dengan kendaraan manusia selama 30 triliun tahun. Ini berarti bahwa jarak antara bumi dengan langit yang ke-7 adalah 5 triliun tahun cahaya itu dapat ditempuh dengan kendaraan ultra modern memakan waktu sebesar 30 triliun tahun dan kalau perjalanan pulang balik berarti memakan waktu 60 triliun tahun. Suatu hal yang tidak mungkin.
Sedangkan menurut ahli tafsir, Nabi diperjalankan dari bumi sampai ke langit yang ke-7 pulang balik memakan waktu 8 jam (mulai jam 08.00 malam-jam 04.00 pagi). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa 8 jam kendaraan Nabi, sama dengan 60 triliun tahun kendaraan manusia.
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan Isra’ Mi’raj dapat disimpulkan bahwa dapat ditunjukkan bahwa kekuasaan Allah benar-benar di luar jangkauan manusia. Dengan demikian kita menyadari betapa perkasanya Allah, betapa hebatnya kekuatan Allah, jika dibanding dengan kekuatan manusia.
Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, Pendengaran Allah tidak dapat dibatasi oleh gunung yang tinggi, begitu pula Allah Maha Melihat, Penglihatan Allah tidak dibatasi oleh laut yang dalam bagaimanapun, Allah Maha Melihat semut hitam yang berjalan di batu hitam yang licin dan dalam keadaan gelap gulita, bahkan Allah Maha Melihat zat-zat yang membentuk semut tersebut.
Allah Maha kuasa atas segala-galanya, Allah Maha Mampu menciptakan manusia, mematikan manusia dan menghidupkan kembali umat manusia, bila hari kebangkitan telah datang kelak, Allah juga yang Maha mampu membalas amal baik manusia dengan kesejahteraan serta kebahagiaan di surga, dan Allah Maha mampu membalas amal buruk manusia dengan siksa neraka yang amat mengerikan.
Demikianlah sekilas khotbah tentang hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW ditinjau dari segi ilmu pengetahuan modern, yang akhirnya dapat dibuktikan tentang ke Maha Kuasaan Allah SWT, yang amat penting dalam usaha meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT yang Maha kuasa dari segala yang berkuasa di jagat ini.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ عَظِيمِ. وَنَفَعْنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمَنْكُمْ تَلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمِ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتُ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتُ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السَّلامِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيعَةِ النَّبِيِّ الكريم، أشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريك له، ذو الجلال والإكرام، وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُه، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الهِ وَأَصْحَابه والتابعينَ بِإِحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ فَيَأْيُّهَا الإِخْوَانِ، أَوْصَيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمُ: أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوْتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِي
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk beribadah di bulan Rajab yang mulia ini. Pada kesempatan ini kita kembali memperingati peristiwa besar dan istimewa, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Karena itu, sebagai umat Islam, kita harus mengetahui apa makna Isra’ Mi’raj, bagaimana kisah perjalanan Nabi dalam Isra’ Mi’raj? Dan apa pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang agung, yaitu Allah subhanahu wata’ala memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina.
Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah subhanahu wata’ala sang pencipta Alam semesta. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Isra’ ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إلى المسجد الأقصى الذي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Shahih Bukhari, Juz 5 halaman 52. Intisarinya adalah suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan mencucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman.
Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula. Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai Buraq diantar oleh malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan, “Siapa ini?” Jibril menjawab: “Jibril.” “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. “Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.”
Di langit dunia ini, -Nabi bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissalam, Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi. Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, sebaliknya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad.
Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, di langit keempat, Nabi bertemu dengan Nabi Idris, di langit kelima Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihissalam, Di langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa, Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk bertawaf di dalamnya.
Kemudian Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu. Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan: “Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya.” Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala.
Allah mewajibkan kepada Nabi untuk melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan kemudian kembali pulang, dalam perjalanan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam.
Nabi Musa mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan, umatku telah membuktikannya. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali pada Allah subhanahu wata’ala, mohonlah keringanan untuk umatmu.
Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali. kemudian Nabi Muhammad kembali kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama.
Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu.
Nabi Muhammad kembali pada Nabi Musa, Nabi musa tetap mengatakan bahwa umatmu tidak akan kuat wahai Nabi Muhammad, ….. Nabi Muhammad menjawab, saya malu untuk kembali menghadap pada Allah. Saya ridho dan pasrah kepada Allah.
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, Juz 2 hal. 94 menceritakan, keesokan harinya, Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra’ Mi’raj terhadap kaum Quraisy.
Mayoritas orang Quraisy ingkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya. terhadap kisah yang disampaikan Nabi. Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra’ Mi’raj Nabi, beliau mengatakan: “sungguh aku percaya terhadap berita dari langit,…? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki Nabi dengan sebutan Abu Bakar As-Shiddiq, Abu Bakar yang sangat jujur.
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari peringatan Isra’ Mi’raj? Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqia’ wa Tahlil Ijdats, juz 1 hal.209; menjelaskan, empat hal penting yang dapat diambil dari peringatan Isra’ Mi’raj:
Pertama, Isra’ Mi’raj adalah kemuliaan dan keistimewaan dari Allah kepada hambanya tercinta, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Saat itu, Nabi baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Khadijah sebagai istri tercinta, yang selalu mendampingi dan mendukung, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi, serta wafatnya paman tercinta Abu Thalib, yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy.
Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah subhanahu wata’ala. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan Agama Allah subhanahu wata’ala. “Ini memberikan pelajaran kepada kita, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majelis ilmu, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan baginya.”
Kedua, kewajiban menjalankan shalat lima waktu bagi setiap muslim. Musthofa As Siba’i dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 hal.54; menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat;
Ketiga, Isra’ Mi’raj adalah mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan perjalanan beliau dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha. Dalam sejarah, Itu adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat.
Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut “memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi”.
Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan umat dan bangsa.
Keempat, dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, terdapat penyebutan dua masjid umat Islam, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bagi kita bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam.
Membela Masjidil Aqsha dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib hukumnya bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina.
Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta. Tidak mampu dengan itu Lakukan dengan Do’a. “Sesungguhnya Allah SWT. Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Mari kita jadikan Peristiwa Isra Miraj ini sebagai momentum dalam kehidupan untuk tetap tawadhu dan bertaqwa kepada Allah SWT. Semua hal baik berawal dari kepemimpinan diri. Berdamailah dan eksekusi mimpimu mulai besok. Jadilah tuan bagi diri sendiri yang lebih berdaya untuk masa depan yang lebih cerah.
Semoga kita selalu menjadi umat yang selalu dapat mengambil hikmah dan dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Allahumma Aamin.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بالآيات وذكر الحكيم إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ كَرِيمٌ مَلِكٌ بَر رَؤُوفٌ رَحِي
بارك الله لي الله لي ولكم . ولكم في القرآن العظيم، ونَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بالآيات وذكر الحكيمِ إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرُ رَؤُوْفٌ رَحِي
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشَّكْرُ لَهُ عَلى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَائِهِ. وَأَشْهَدُ أن لا إله إلا اللَّهُ وَاللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِى إلى رضوانه اللهم صل عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ فَيا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ بَدَأَ بَدَأَ بَدَ . فِيهِ فِيهِ بِنَفْسِهِ بِنَفْسِهِ وثنى وَى بملا بكتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَال تعالى إنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَارْضَ اللَّهُمْ عَنِ الْخُلْفَاءِ الرَّاشِدِينَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَانَ وَعَلَى وَعَنْ بَقِيَّة الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ البِيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذِلَّ الشَّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ وَانْصُرُ عِبَادَكَ الْمُوَحْدِيَّة وَانْصُرُ مَنْ نَصَرَ الدين وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِينَ وَ دَمرُ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَاغْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البلاء والوباء والزلازل والمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلْدِنَا اندونيسيا خاصةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ المُسلمين عامة يا رب العالمين. ربنا آتنا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لم تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (الإسراء: ١)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Ma’asyiral Muslimin rahimukumullah,
Di bulan Rajab yang mulia ini kita bertemu dengan sebuah momen yang agung, yaitu peringatan Isra dan Miraj. Allah swt, berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ (الإسراء: ١)
Artinya: Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS al-Isra’: 1).
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Mukjizat Isra telah tetap dengan nash Al-Quran, hadits-hadits yang shahih dan ijma’. Oleh karena itu, kita wajib mengimaninya. Perjalanan Isra’ terjadi dengan roh dan jasad Nabi.
Hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Oleh karenanya, para ulama menegaskan: Barangsiapa yang mengingkari mukjizat Isra’, berarti ia telah mendustakan Al-Quran dan barangsiapa mendustakan Al-Qur’an maka ia tidak lagi tergolong sebagai bagian dari kaum muslimin.
Ma’asyiral Muslimin rahimukumullah,
Perjalanan Isra dimulai dari rumah Ummu Hani’ binti Abu Thalib sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik ra, ia berkata: Abu Dzarr menyampaikan hadits bahwa Rasulullah bersabda: “Atap rumahku dibuka, ketika itu aku di Makkah, Jibril turun dan membelah dadaku, lalu membasuhnya dengan air zamzam, kemudian ia datang membawa bejana emas yang penuh dengan hikmah dan iman, maka ia menuangkannya di dadaku, kemudian menutup dadaku kembali,” (HR Muslim).
Al-Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Syaddad bin Aus ra, ia berkata: Kami bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana engkau diperjalankan Isra’? Nabi menceritakan:
“Aku melakukan shalat malam bersama para sahabatku di Makkah, lalu Jibril mendatangiku dengan binatang putih, postur tubuhnya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghl (peranakan kuda dan keledai), maka Jibril berkata: ‘Naiklah!’ Namun Buraq bergoyang kegirangan saat aku mendekatinya. Lalu Jibril memutar Buraq dengan memegang telinganya dan menaikkanku ke atas punggungnya, sehingga akhirnya binatang tersebut berangkat membawa kami. Kakinya melangkah sejauh pandangan matanya, hingga kami sampai ke suatu daerah yang penuh dengan pohon kurma, lalu Jibril menurunkanku seraya berkata: ‘Laksanakanlah shalat di tempat ini!’ aku pun melaksanakan shalat di tempat tersebut. Kemudian kami naik ke atas Buraq lagi dan Jibril berkata: ‘Tahukah engkau di mana engkau tadi melakukan shalat?’ Aku menjawab: ‘Allah-lah yang Maha Mengetahui.’ Jibril berkata: ‘Engkau tadi melakukan shalat di Yatsrib, di Thaybah (yang di kemudian hari disebut Madinah).’
Demikianlah, Nabi di malam itu berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dengan mengendarai Buraq, dan ditemani oleh malaikat Jibril. Nabi melakukan shalat di bukit Thur Saina (Tursina), tempat diperdengarkannya kalam Allah kepada Nabi Musa as, kemudian di Bait Lahm (Betlehem), tempat ‘Isa al-Masih bin Maryam as dilahirkan. Nabi bercerita:
“Kemudian Jibril kembali membawaku hingga kami memasuki kota Baitul Maqdis dari pintu Yamani. Jibril pun mendatangi arah kiblat Masjidil Aqsha dan mengikat Buraq di sana. Lalu kami memasuki Masjidil Aqsha dari pintu yang terkena cahaya matahari dan bulan. Kemudian aku melakukan shalat di salah satu tempat di masjid tersebut.”
Ma’asyiral Muslimin rahimukumullah,
Peringatan Isra adalah peringatan yang agung, yang menyegarkan ingatan kita tentang sejarah hidup makhluk Allah yang paling agung, pemimpin makhluk seluruhnya yang menjelaskan hakikat kebenaran dan menampakkannya, pemilik mukjizat-mukjizat yang luar biasa nan menakjubkan, penghulu para nabi, Nabi agung Muhammad saw.
Di malam yang agung tersebut, Allah memperlihatkan keutamaan dan kemuliaan Sayyidina Muhammad saw di atas semua nabi dan rasul. Allah mengumpulkan untuk Nabi kita Muhammad saw, semua nabi dan rasul di Baitul Maqdis. Lalu Nabi Muhammad melaksanakan shalat sebagai imam bagi mereka semua.
Dalam perjalanan Isra, Nabi Muhammad saw, melihat banyak sekali keajaiban-keajaiban yang mengandung hikmah dan pelajaran bagi kita semua.
Di antaranya, ketika beliau melewati kuburan tukang sisir putri Firaun, beliau mencium bau wangi yang muncul dari kuburan perempuan muslimah yang shalihah tersebut, perempuan yang Allah berikan kepadanya dan kepada anak-anaknya karunia mati syahid.
Dalam kisahnya, bahwa suatu hari perempuan ini tengah menyisir rambut putri Fir’aun. Lalu jatuhlah sisir dari tangannya. Ia lalu berucap: “Bismillah (dengan menyebut nama Tuhan Allah).” Putri Firaun bertanya kepadanya: “Apakah kamu memiliki tuhan selain ayahku?” Tukang sisir itu menjawab: “Iya, Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah.”
Putri Firaun kemudian memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Fir’aun lantas meminta tukang sisir itu untuk meninggalkan agamanya. Akan tetapi tukang sisir menolak. Fir’aun lalu memanaskan air di suatu wadah besar yang diisi minyak hingga mendidih. Kemudian ia memerintahkan para algojonya untuk melemparkan anak-anak tukang sisir itu satu persatu ke air panas tersebut, sehingga daging mereka meleleh dan lepas dari tulangnya.
Namun tukang sisir tidak surut sedikit pun untuk mempertahankan imannya. Hingga tibalah giliran anaknya yang masih menyusu untuk dilempar. Tiba-tiba anak itu berbicara kepada ibunya. Allah menjadikannya bisa bicara. Anak itu berkata: “Wahai Ibuku, bersabarlah karena siksa akhirat lebih pedih dari siksa dunia. Janganlah engkau gentar dan mundur selangkah pun, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Mampukah kita di masa sekarang ini meraih puncak kesabaran seperti ini? Di masa yang penuh godaan ini, mampukah kita mempertahankan kebenaran yang kita yakini? Seberapa kuat kita mampu memegang teguh nilai-nilai kebenaran yang diajarkan Baginda Rasulullah saw? Di masa yang penuh dengan fitnah ini, bisakah kita meneladani Masyithah (tukang sisir putri Firaun)?
Marilah kita berintrospeksi, menanyai diri sendiri. Apakah kita telah mengerjakan apa yang Allah wajibkan kepada kita? Apakah kita telah menjauhi segala hal yang Allah haramkan? Apakah kita telah melaksanakan shalat pada waktunya? Apakah kita telah membayar zakat yang diwajibkan atas kita?
Rasulullah dalam perjalanan Isra’nya juga melihat orang-orang yang menyebar seperti binatang-binatang ternak, aurat mereka hanya tertutup dengan kain-kain kecil. Jibril berkata kepada Rasulullah: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat.”
Nabi juga melihat sekumpulan orang yang retak dan pecah kepalanya, kemudian kembali seperti semula. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang enggan dan malas menunaikan kewajiban shalat.”
Rasulullah juga melihat orang-orang yang memperebutkan daging busuk dan mengabaikan daging bagus yang sudah terpotong-potong. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang dari umatmu yang meninggalkan sesuatu yang halal, dan lebih memilih sesuatu yang haram dan keji, lalu memakannya. Mereka adalah para pezina.” Rasulullah juga melihat orang-orang yang meminum nanah yang keluar dari para pezina. Jibril berkata: “Mereka adalah para peminum khamr yang diharamkan oleh Allah di dunia.”
Inilah sebagian keajaiban yang Allah perlihatkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, dalam perjalanan Isra’. Mudah-mudahan kita dapat memetik hikmah dan pelajaran darinya.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ، وَعَلٰى إِخْوَانِهِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنْ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَآلِ الْبَيْتِ الطَّاهِرِيْنَ، وَعَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الْأَئِمَّةِ الْمُهْتَدِيْنَ، أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَعَنِ الْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَاتَّقُوْهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلٰى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضٰالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وآمِنْ رَّوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ ما نَتَخوَّفُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى ويَنْهٰى عَنِ الفَحْشٰاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَاتَّقُوْهُ يَجْعَلْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مَخْرَجًا، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Teks khutbah Jumat keenam ini dikutip dari laman Kementerian Agama (Kemenag) Jabar yang ditulis oleh Cecen Ahmad Khusaeri. Berikut ini teks lengkapnya.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ العَلَّامِ الْقُدُّوْسِ السَّلَامِ الْمُحِيطِ عِلْمُهُ بِالْخَاصِ وَالْعَامِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، ذُو الْجَلالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ ، أَشْرَفُ مُرْسَلٍ وَ أَكْمَلُ إِمَامٍ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّم وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمَخْتُوْمِ بِخَاتِمِ النُّبُوَّةِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَتِ الْكِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ .
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِينَ
Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah!
Saat ini kita semua masih berada di bulan mulia Rajab, mengingatkan kembali terhadap peristiwa luar biasa yang pernah terjadi kepada baginda Rasulullah SAW, dikenal dengan istilah Isra wal Mi’raj.
Isra adalah peristiwa, ketika Allah SWT memperjalankan Rasulullah dari Masjidil Haram Makkah, menuju Masjidil Aqsa di Palestina, sedangkan Mi’raj adalah peristiwa dinaikkannya Rasulullah melintasi lapisan-lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau pengetahuan manusia maupun jin, bahkan malaikat sekalipun.
Semua kejadian luar biasa itu terjadi hanya dalam satu malam saja. Berkaitan dengan hal ini Allah SWT
berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra’: 1).
Hadirin Rahimakumullah!
Kita semua mengimani dengan sepenuh hati bahwa perjalanan Isra dan Mi’raj adalah sebuah kebenaran yang terjadi hanya kepada baginda Rasulullah SAW, rasul terpilih yang mendapat mukjizat istimewa ini, beliau SAW sengaja diundang Allah SWT untuk mendapatkan titah suci, yakni ibadah shalat yang lima waktu.
Sehingga ibadah shalat ini dibedakan dengan ibadah lainnya, tidak cukup dengan perantaraan malaikat Jibril, melainkan berjumpa untuk berdialog dengan Dzat Allah Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, ibadah shalat merupakan dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya. Sehingga diantara ibadah lain, ibadah shalat merupakan ibadah yang membawa seseorang sangat dekat kepada Sang Maha Pencipta. Di dalam shalat, seorang hamba akan meminta agar jiwanya disucikan, sebagaimana yang diketahui bahwasanya salat merupakan bentuk penyerahan segenap diri seorang hamba dan permohonan hidayah-Nya.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِينَ
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (Q.S. Al-An’am: 162).
Ayat ini menunjukkan suatu bentuk penyerahan diri seorang hamba agar disucikan jiwanya. Adapun sebetulnya kesucian yang dimaksud ialah kesucian jiwa dari hal-hal selain Allah di dalam salatnya. Namun tentu hal ini tidak dapat dilakukan jika seseorang tidak menghadirkan hatinya secara penuh ketika melaksanakan shalat. Sehingga, idealnya seorang Muslim secara totalitas bisa menghadirkan hati sepenuhnya saat ibadah shalat.
Hadirin yang berbahagia!
Demikian mulia ibadah shalat ini, sampai-sampai baginda Rasulullah SAW menggambarkan shalat sebagai tiang agama. Sebagaimana beliau bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَها فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ وَمِنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الَّذِيْنَ
“Shalat adalah tiang agama, maka barangsiapa mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barangsiapa meninggalkan shalat, sungguh ia telah merobohkan agama nya itu” (HR al-Baihaqi).
Shalat merupakan tiang agama, tentu dalam menegakkannya akan mendapatkan tantangan baik dari luar maupun dari dalam. Tantangan luar berasal dari orang lain atau lingkungan sekelilingnya, adapun dari dalam berasal dari sendiri berupa hawa nafsu, karena nafsu merupakan musuh terbesar bersemayam dalam diri seseorang yang selalu mendorong terhadap perbuatan buruk. Sehingga idealnya pelaku shalat bisa menyalurkan nafsunya untuk terhindar dari pekerjaan maksiat. Allah SWT berfirman:
إنَّ الصَّلوةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut:45).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ibadah Salat itu mengandung dua hikmah, yaitu dapat menjadi pencegah diri dari perbuatan keji dan perbuatan munkar, artinya bahwa shalat dapat menjadi pengekang diri agar seorang muslim menghindari dari kebiasaan melakukan kedua perbuatan buruk tersebut. Dari Ibnu Abbas Ra, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا
“Barangsiapa yang salatnya tidak dapat mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan munkar, maka salatnya itu tidak lain makin menambah jauh dirinya dari Allah.”
Hadirin Rahimakumullah!
Demikian mulianya ibadah shalat ini, merupakan identitas seorang muslim sejati, sehingga apabila seorang muslim mengatakan berjuta teori tentang kebaikan, andaikan dia mengabaikan ibadah shalat, maka teorinya menjadi mentah. Sebaliknya, seorang muslim yang melaksanakan shalat dengan baik, maka berjuta kebaikan pun akan nampak daripadanya. Di hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun menjadi buruk. (HR. Thabrani).
Hadits ini menjelaskan bahwa baik dan buruknya ibadah seorang Muslim, sangatlah berpengaruh daripada ibadah sholatnya ketika di dunia kini.
Ibadah shalat idealnya bukan semata ibadah ritual yang sudah diatur syarat dan rukunnya, namun ibadah shalat akan berefek terhadap kesalehan sosial, menjadikan individu yang ramah, santun, penyayang dan selalu empati terhadap orang yang lemah, serta gemar tolong menolong terhadap yang membutuhkan, merupakan identitas seorang Muslim yang sebenarnya.
Semoga melalui peringatan Isra Mi’raj yang sering kita laksanakan, bisa meningkatkan keimanan dan kecintaan kita kepada baginda Rasulullah SAW yang diaplikasikan dengan meningkatkan kualitas ibadah shalat, sehingga membawa hikmah dalam kehidupan, agar menambah kesalehan ritual bagi pribadinya, serta berpengaruh terhadap kesalehan sosial. Menjadi suri tauladan bagi orang lain, membawa ke arah ketenangan lingkungan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Aamiin ya mujibassailin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْعَلِيُّ الْأَعْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ النَّبِيُّ الْمُصْطَفَى وَالرَّسُولُ الْمُجْتَبى ..
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ : اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
وَقَالَ اللهُ تَعَالَى : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلَّوْنَ عَلَى النَّبِي يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلَّوْا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيْبُ . الدَّعْوَاتِ . اللَّهُمَّ اصْلِحْ إِمَّتَنَا وَأُمَّتَنَا وَقَضَاتَنَا وَعُلَمَانَنَا وَفُقَهَانَنَا وَمَشَايِخَنَا صَلَاحًا تَامَّا عَامًا، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ . اللَّهُمَّ نَصْرُ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، اَللَّهُمَّ أَهْلِكْ أَعْدَا الدِّيْنَ، وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِينَ، وَفُكَ أَسْرَى الْمَأْسُوْرِيْنَ ، وَفَرِّجْ عَنِ الْمَكْرُوبِيْنَ وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدْيُوْنِيْنَ وَاكْتُبِ السَّلَامَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ اَلْحَمْدُ للهِ اَلَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اَللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى ألِه وَأصْحَابِه وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالى فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Pertama sekali marilah kita bersyukur ke hadirat Allah yang telah memberikan berjuta kenikmatan kepada kita sekalian, sehingga masih bisa melaksanakan Shalat Jumat di masjid yang mulia ini.
Shalawat serta salam, semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad yang telah membimbing kita menuju dunia yang terang dan jelas, yaitu dinul Islam. Semoga kita selalu mencintainya dan bershalawat kepadanya sehingga kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaatnya di hari akhir nanti, amin.
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Selaku khatib kami mengajak kepada hadirin sekalian dan diri kami pribadi, marilah kita selalu berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berusaha menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Semoga Allah selalu memberikan bimbingan dan kekuatan kepada kita sehingga kita selalu dalam keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Amin.
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Pada khutbah kali ini khatib ingin menyampaikan judul hikmah Isra Miraj. Isra Miraj adalah peristiwa luar biasa dan tidak masuk akal di zamannya, yaitu Allah SWT memanggil dan memperjalankan serta memberikan keistimewaan kepada Nabi Muhammad saw untuk melakukan perjalanan dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah swt. Sebagaimana Allah jelaskan dalam Surat Al-Isra ayat pertama:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Al-Haram menuju ke Masjid Al-Aqsa yang telah diberkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepada nya dari tanda-tanda kebesaran kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra:1)
Sejarah telah menjelaskan, Nabi Muhammad diisra’mi’rajkan adalah karena kesedihan yang dialaminya. Kesedihan itu disebabkan karena meninggalnya istri tercinta, Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Keduanya adalah pendukung kuat dalam berdakwah, karenanya Nabi sedih.
Ada banyak peristiwa yang dialami oleh Nabi dalam perjalan Mi’rajnya, yang kesemuanya itu merupakan tamsil-tamsil kehidupan supaya dapat dipahami dan dijadikan pelajaran dan pijakan dalam mengarungi kehidupan agar mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Di antara tamsil-tamsil itu di antaranya ialah:
Nabi Muhammad saw melihat orang memotong padi (panen) terus menerus. Nabi bertanya kepada Jibril “siapakah mereka itu?” Jibril menjawab: “Mereka itu ibarat orang yang gemar beramal jariyah, yang kemudian mereka memetik pahalanya dari Allah swt”.
Nabi juga melihat orang yang terus menerus memukul kepalanya. Nabi Muhammad bertanya, “siapakah mereka itu ya Jibril?” Dijawab, “mereka itu ibarat orang yang enggan melaksanakan shalat, yang kelak akan menyesal dengan memukuli kepalanya sendiri terus menerus sekalipun terasa sakit olehnya.”
Juga melihat sebuah kuburan yang sangat harum baunya. Nabi bertanya, “apakah itu Ya Jibril?” Dijawab: “Itu kuburan Masyitah dan anaknya. Dia mati disiksa oleh Raja Fir’aun karena mempertahankan imannya kepada Allah swt sewaktu dipaksa supaya menyembah berhala.”
Dari sejarah Isra Miraj dan peristiwa yang melatar belakangi serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ada beberapa hikmah yang dapat dijadikan pelajaran serta penguatan keimanan umat Islam, di antaranya adalah:
Pertama, menghilangkan kesedihan Nabi. Setiap manusia dikaruniai perasaan dan cinta oleh Allah, sehingga jika suatu saat terjadi goncangan, maka manusia bisa menjadi sedih dan boleh jadi berlarut-larut kesedihannya. Sebelum Nabi Muhammad diisra’mi’rajkan oleh Allah, Nabi mengalami kesedihan yang luar biasa atas meninggalnya istri tercinta dan paman yang sangat sayang kepadanya. Keduanya menjadi penopang yang kuat dalam berdakwah.
Kesedihan yang dialami Nabi Muhammad mendapat hiburan dari Allah dengan memanggilnya melalui Isra Miraj yang bertemu langsung dengan Allah. Allah berfirman:
وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرةٌۙ. اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ .
“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, (karena) memandang Tuhannya,” (QS Al-Qiyamah: 22-23).
Kedua, pentingnya ibadah shalat. Allah memberikan perintah langsung kepada Nabi Muhammad untuk menerima tugas shalat 5 waktu. Jadi shalat merupakan hal penting dalam peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ، وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ.
“Salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, berarti ia telah menegakkan agama. Dan, barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah merobohkan agama.” (HR Al-Baihaqi)
Ketiga, ujian keimanan bagi umat Islam. Pada zaman Nabi Muhammad saw kendaraan yang bagus kecepatannya adalah kuda dan belum ada kendaraan yang bisa membawa penumpang dalam waktu yang cepat dan singkat ke udara, apalagi menembus langit. Karenanya peristiwa Isra Miraj adalah sesuatu yang dianggap masyarakat adalah sesuatu yang ganjil dan mustahil. Sebab itu Nabi dianggap pembohong atau pun orang gila.
Dalam memahami Islam ternyata tidak semua harus masuk akal atau logik. Ini merupakan satu ujian yang cukup besar di zaman itu. Hanya bisa diterima dengan hati, dengan keyakinan atau keimanan. Jadi Isra Miraj merupakan ujian keimanan seorang Muslim. Apakah yakin atau tidak dengan apa yang dialami oleh Nabi?. Allah berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?,” (QS Al-Ankabut: 2).
Keempat, terhindarnya sikap keluh kesah. Bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat keluh kesah dalam hidupnya, terutama ketika mendapati musibah atau kondisi kekurangan. Karenanya manusia sering menujukkan keresahan, kegelisahan, serta memperlihatkan sifat kikirnya. Terlihat jelas sikap itu ketika kondisi kekurangan atau musibah dialami.
Momen Isra Miraj ini bisa dijadikan sebagai pengingat dan penyemangat agar kita berusaha memperbaiki ibadah shalat serta mengaktualisasikan kedermawanan kita kepada sesama. Allah berfirman:
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا، إِلَّا الْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ، وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ، لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ، وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan.” (QS Al-Ma’arij, 70: 19-26)
Kelima, menstimulasi berkembangnya ilmu. Pengetahuan Perjalanan Isra Miraj Nabi di zamannya merupakan sesuatu yang tidak mudah diterima akal. Di sisi lain umat Islam diharuskan percaya terhadap peristiwa Isra’ Miraj.
Ketika umat Islam sudah yakin dan percaya terhadap peristiwa Isra Miraj, maka manusia tergerak hati dan pikirannya untuk membuktikan secara nyata, secara riil. Kisah nabi tentang langit membangkitkan orang orang tertentu melakukan penelitian guna menemukan kebenaran riil dari apa yang diceritakan nabi. Dari sini bahwa Isra Miraj merupakan peristiwa yang dapat menstimulasi ilmuan-ilmuan untuk mengkaji dan membuktikan kebenaran cerita nabi. Al-Quran pun sudah mendorong manusia untuk mengkaji lebih jauh dengan ungkapan, afala ya’qilun, afala ya’lamun, afala yadzkurun, dan lain sebagainya. Allah berfirman:
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۗ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيْمٍ
“Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu; dan mengembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (QS Lukman: 10)
Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Demikian khutbah yang singkat ini, semoga bisa lebih memahami tentang Isra Miraj sehingga bisa menjadi hamba Allah yang terbaik yang pantas mendapatkan ridla-Nya.
Semoga Allah memudahkan dan memberi kekuatan serta semangat kepada kita untuk bisa memaksilkan ibadah Rajab dan nilai-nilainya, sehingga kita pantas mendapatkan posisi yang tinggi di mata Allah dan mendapatkan ampunan dan Rahmat-Nya di dunia dan akhirat, amin.
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَه اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ.
اَلْحَمْدُ لِلّهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلهٌ لَمْ يَزَلْ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِهِ وَأَصْحَابِه وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اللهم صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلى ألِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلى ألِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللّهمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
(H Ahmad Misbah, Ketua LDNU Tangsel)
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَوَصَّى وَأَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئٍ عِلْمًا. وَأَحْصَى أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ شَهَادَةَ اْلأَتْقَى. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ مَنَّ بِجَمِيْعِ حُقُوْقِهِ قَضَى. أَمَّا بَعْدُ
أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهِ. اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin jamaah Jumat yang mulia,
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada Anda semua, mari kita meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT dengan berusaha sekuat tenaga melaksanakan semua perintahNya serta menjauhi larangan-laranganNya.
Telah maklum bahwa kita semua telah memasuki bulan Rajab, bulan yang mulia. Nabi Muhammad dalam memperhatikan bulan Rajab sampai memanjatkan doa yang sebagaimana diriwayatkan oleh Anas Ibn Malik dalam Musnad Ahmad:
أَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, semoga Engkau memberkahi kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, semoga Engkau pertemukan kami dengan bulan Ramadhan.” Seolah-olah bulan Rajab merupakan persiapan awal untuk menyambut bulan Ramadlan. Ia menjadi tonggak dari rangkaian ibadah-ibadah penting pada bulan yang jatuh setelahnya, yaitu bulan Sya’ban dan Ramadlan.
Sebagian ulama berkata:
رَجَبُ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشعْبَانُ شَهْرُ السَقْيِ وَرَمَضَانُ شَهْرُ الْحَصَادِ
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan untuk menyirami, dan Ramadhan adalah bulan panen.”
Maka dari itu, marilah kita gunakan bulan Rajab ini dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal saleh, istighfar, sedekah, puasa dan lain sebagainya.
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,
Sebagaimana kisah yang telah masyhur, pada bulan Rajab juga terdapat peristiwa ajaib dan mengagumkan, berupa isra’ wal mi’raj, perjalanan nabi dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsha kemudian menuju Sidratul Muntaha. Berikut beberapa kisah yang dapat kita petik dari cerita Isra dan Miraj tersebut. Pertama, Isra dan Miraj adalah perkara yang haq karena sharih (sangat jelas dan eksplisit) disebutkan dalam Al-Qur’an, sebuah kejadian yang pasti terjadi, pasti benar, tak ada keraguan sama sekali meskipun akal manusia tidak dapat menjangkau.
Semua hal aneh ini terjadi dalam rangka menguji dan mengukur ketebalan iman seseorang, sebab manusia tersesat adalah orang yang hanya mengukur sebuah kebenaran hanya bersandar pada akal semata. Kita harus menghindari arus pemikir yang hanya membanggakan akal dengan mengesampingkan kekuatan Allah yang lain. Karena tidak mustahil jika pola pikir demikian dilestarikan akan menjadikan ajaran agama yang tidak cocok dengan akal akan ditolak dan diingkari, na’udzubillahi min dzalik. Padahal model demikian adalah cara pandang iblis. Iblis itu disifati dengan أَوَّلُ مَنْ قَاسَ الدِّيْنَ بِرَأْيِهِ (makhluk yang pertama kali mengukur kebenaran agama dengan akalnya sendiri).
Kedua, sebelum Nabi Muhammad menghadap Allah SWT (miraj), beliau dibedah dadanya, dibersihkan hatinya meskipun hati Nabi sebenarnya sudah pasti bersih karena beliau maksum (suci dari dosa). Sebagaimana yang ditulis pengarang Simthut Durrar, Habib Ali Al Habsyi:
وَمَا أَخْرَجَ الْلأَمْلَاكُ مِنْ قَلْبِهِ أَذَى وَلَكِنَّهُمْ زَادُوْهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ
“Malaikat tidak menghilangkan kotoran dari hati Nabi, tetapi agar hati yang suci semakin menjadi suci”.
Pembersihan hati ini dilakukan sebelum Rasulullah menerima tugas shalat lima waktu. Ini juga pelajaran bagi kita sebagai umatnya yang banyak dosa bahwa saat akan menghadap Allah SWT hendaknya lebih dahulu kita bersihkan hati kita masing-masing. Maksudnya, apabila kita shalat harus dimulai dengan hati yang suci, khusyu’ tidak memikirkan bab dunia. Sampai Allah SWT berfirman menggunakan lafadz ” أَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ ” tidak ” اِفْعَلُوْا الصَّلَاةَ “. Iqâmatusshalâh tidak sama dengan fi’lusshalâh. Fi’lusshalâh yang penting melakukan rukun dan syarat shalat sudah disebut fi’lusshalâh.
Tetapi Iqâmatusshalâh yang maknanya adalah:
اِتْيَانُ الصَّلَاةِ بِحُقُوْقِهَا الظَّاهِرَةِ وَ حُقُوْقِهَا الْبَاِطَنَة
Melaksanakan shalat dengan menjalankan syarat-rukun shalat yang zhahir dan syarat-rukun shalat yang bathin, yaitu khusyu’.
Hadirin, Lalu bagaimana agar dapat melaksanakan salat dengan khusyuk?
Hatim Al Asham ditanya
“كَيْفَ تَخْشَعُ فِيْ صَلَاتِكَ؟”
Bagaimana engkau dapat khusyuk dalam salatmu?
Maka ia menjawab:
أَقُوْمُ وَ أُكَبِّرُ لِلصَّلَاةِ وَ أَتَخَيَّلُ الْكَعْبَةَ أَمَامَ عَيْنِيْ
Aku berdiri membayangkan Kabah ada di depanku
وَالصِّرَاطَ تَحْتَ قَدَمِيْ وَالْجَنَّةَ عَنْ يَمِيْنِيْ وَالنَّارَ عَنْ شِمَالِيْ وَمَلَكَ الْمَوْتِ وَراَئِيْ
Aku membayangkan Shirath di bawah telapak kakiku, surga ada di sebelah kananku, neraka ada di sebelah kiriku dan malakul maut ada di belakangku.
Hadirin hafidzakumullah,
Dengan keterangan tadi, kita semua dapat memahami bahwa shalat yang dimaksud dalam Al-Quran yang تَنْهَىْ عَنِ الْفَخْشَاِء وَالمنْكَرِ itu bukan shalat biasa, tidak hanya fi’lusshalâh namun harus Iqâmatussahlâh, shalat yang benar-benar khusyu, hudlûr dan hati suci.
Semoga kita semua, dan keluarga kita dapat menjadi semakin baik, dimudahkan dalam melaksanakan semua perintah Allah SWT, mendapat ridha Allah SWT dan akhirnya masuk surga-Nya. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ اِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, أُتْلُ مَا أُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ, اِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ, وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. اَلْحَمْدُ للهِ حَقَّ حَمْدِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْـدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا الله، إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ اَللَّهُمَّ اصْلِحْ أَإِمَّتَنَا وَأُمَّتَنَا وَقَضَاتَنَا وَعُلَمَائَنَا وَفُقَهَائَنَا وَمشَايِخَنَا صَلَاحًا تَامًّا عاَمًّا، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُّهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ نْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ،اَللَّهُمَّ اَهْلِكْ اَعْدَاَ أَلدِّيْنَ،وَاَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِينَ،وَفُكَّ أَسْرَى الْمَأْسُوْرِيْنَ،وَفَرِّجْ عَنِ الْمَكْرُوْبِيْنَ وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدْيُوْنِيْنَ وَاكْتُبِ السَّلَامَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرُ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الَمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلاَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قُدِيْرٌ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَأَهْلَنَا وَذُرِّيَاتِنَا وَجَمِيْعَ إِخْوَانِنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الصَّابِرِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْ عُلَمَائِكَ الْعَامِلِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ. رَبَّنَا أَتِيْنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارَ. اِللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخُاتِمَةِ ×۳ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
(Sumber: NU Online)
الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: سُبْحانَ الَّذِي أَسْرى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بارَكْنا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آياتِنا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, Di bulan Rajab ini kita memperingati kejadian Isra Miraj yang menjadi salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw berupa perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha sampai ke Sidrat Al-Muntaha untuk bertemu dengan Allah swt. Isra Miraj tidak sekedar dilihat dari aspek kejadiannya yang menakjubkan, sehingga disebut mukjizat begitu saja. Akan tetapi harus dibaca dari sudut pandang latar belakang kejadian tersebut sehingga dapat diketahui tujuan besar dan pelajaran berharga yang bisa diambil.
Isra Miraj terjadi pada tahun 10 H yang merupakan pertengahan fase kenabian yang mencapai 23 tahun. Isra Miraj adalah anugerah yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad untuk menjadi obat atas segala cobaan yang dialami sebelum Isra Miraj, sekaligus menjadi harapan besar atas langkah-langkah dakwah setelahnya. Sebelum Isra Miraj, Nabi mengalami beberapa kejadian sulit yang menyedihkan seperti wafatnya istri tercinta, Sayyidah Khadijah dan paman terbaik, Abu Thalib.
Keduanya bukan sekedar keluarga bagi Nabi Muhammad, tetapi hadir sebagai penyemangat dakwah kepada kaum Quraisy. Setelah itu, Nabi mengalami kekerasan dan perlawanan orang Quraisy yang lebih berat terhadap dakwahnya. Sampai Nabi menyampaikan keluh-kesah kepada Allah swt dalam doa sebagaimana yang diriwayatkan imam Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir, Jilid 14, Halaman 139:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ.
Artinya: “Ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia.” Dari sini, dapat dilihat bahwa Isra’ Mi’raj adalah bentuk anugerah dari Allah swt atas segala cobaan yang dihadapi Nabi sekaligus sebagai harapan baru untuk menelusuri jalan dakwah yang lebih cerah. Allah memberikan pertolongan kepada Nabi sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am, ayat 34 sebagai berikut:
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰىهُمْ نَصْرُنَاۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِۚ وَلَقَدْ جَاۤءَكَ مِنْ نَّبَإِ۟ى الْمُرْسَلِيْنَ (٣٤).
Artinya: “Sungguh rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, lalu mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat Allah. Sungguh, telah datang kepadamu sebagian berita rasul-rasul itu.” Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, Pelajaran yang harus diambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini adalah bahwa setiap ujian dan kesulitan yang dihadapi akan diganti dengan anugerah dan kemudahan. Allah swt berfirman dalam surat Al-Syarh, ayat 5 dan 6 sebagai berikut:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (٥) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (٦)
Artinya: “Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” Ini adalah bentuk keyakinan seorang yang beriman terhadap Allah yang selalu menolong orang-orang yang beriman. Bahkan ketika seluruh penghuni bumi menyakiti seorang yang beriman, maka seluruh penghuni langit akan turun memberikan pertolongan. Hal ini tergambar dalam kondisi yang dihadapi oleh Nabi Muhammad ketika menerima tekanan dari penduduk Makkah, kemudian mencoba mencari pertolongan dari penduduk Thaif, tetapi ditolak dan ditentang. Sampai akhirnya ketika Nabi ingin kembali ke Makkah, penduduknya selalu menghalangi kehadiran Nabi Muhammad.
Setelah itu, Allah dan seluruh penduduk langit turun untuk menolong Nabi dan membawa ke langit sebagai bentuk pertolongan dan semangat kepada Nabi untuk melanjutkan perjuangan dakwah. Hal ini sebagaimana substansi sabda Nabi yang diriwayatkan imam Bazzar dalam kitab al-Musnad, Jilid 15, Halaman 327: “Sesungguhnya pertolongan datang dari Allah sesuai kadar kesulitan yang jalani dan kesabaran datang dari Allah sesuai kadar ujian yang dihadapi.” Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah, Semoga kita dapat mengaktualisasikan pelajaran berharga dalam Isra’ Mi’raj ini dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan meyakini setiap kesulitan dan ujian yang datang kepada kita akan diganti oleh Allah dengan anugerah dan jalan keluar yang indah di dunia dan akhirat. Amin, ya Rabbal Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ الله وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُم بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
(Dr. Fatihunnada, Dosen Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)







