Nuraini Melahirkan di Teras Musala Palembang karena Tak Punya Biaya

Posted on

Sebuah video yang menunjukkan aksi dramatis warga membantu seorang ibu melahirkan di teras musala viral di media sosial. Ibu bernama Nuraini tersebut terpaksa bersalin di lokasi darurat karena tak kuat menahan kontraksi, setelah sebelumnya sempat ragu ke bidan akibat tidak memiliki biaya.

Peristiwa ini terjadi di Mushola Al-Ikhlas, Jalan KH Balqi, Gang Surya 5, Kelurahan 16 Ulu, Palembang, pada Senin (12/1/2026) pagi.

Saksi mata di lokasi, Erlita Silvilliani, menceritakan bahwa kejadian bermula sekitar pukul 06.30 WIB. Saat itu, ibunya melihat Nuraini dan suaminya sedang dalam kondisi panik di depan rumah warga.

“Kebetulan ibu saya mau ke warung dan melihat ada ibu hamil. Pas ditanya, ternyata ketubannya sudah pecah di depan rumah warga,” ujar Erlita, Selasa (13/1/2026).

Melihat kondisi yang sudah mendesak, warga langsung mengevakuasi Nuraini ke teras Mushola Al-Ikhlas. Dengan peralatan seadanya, warga bersama-sama membantu proses persalinan sebelum bidan tiba.

“Bayi perempuan lahir dengan selamat. Kami sengaja tidak memotong tali pusarnya karena takut risiko medis, jadi kami tunggu bidan sampai,” tambahnya.

Di balik aksi heroik warga, terselip kisah pilu. Nuraini mengaku sebenarnya sudah merasakan mulas sejak Minggu malam pukul 23.00 WIB. Namun, ia dan suaminya sempat tertahan di rumah karena faktor ekonomi.

“Sakitnya dari jam 11 malam. Kami bingung, bapaknya bilang mau ke bidan tapi tidak pegang uang sama sekali,” ungkap Nuraini.

Karena kondisi yang semakin gawat, sang suami akhirnya meminjam motor warga untuk membawa istrinya mencari pertolongan. Akan tetapi, di tengah jalan ketuban sudah pecah hingga akhirnya ditolong oleh warga di sekitar mushola.

Sebagai bentuk syukur dan pengingat sejarah kelahirannya, bayi perempuan tersebut diberi nama Siti Nur Cahaya Al-Ikhlas. Hambatan utama Nuraini mendapatkan layanan kesehatan yakni ketiadaan kartu BPJS Kesehatan atau KIS. Hal ini dipicu oleh masalah administrasi kependudukan yang rumit.

Nuraini bercerita bahwa ia pernah mengikuti nikah massal di kawasan Benteng. Namun, saat hendak mengurus dokumen, buku nikahnya di KUA Seberang Ulu (SU) II tidak ditemukan.

“Dipersulit karena buku nikah itu, katanya sudah diambil orang. Padahal kami belum pernah mengambilnya. Karena itu kami bingung mau bikin BPJS sampai sekarang,” tuturnya.

Kini, Nuraini berharap Pemerintah Kota Palembang, khususnya Pj Walikota, dapat memberikan perhatian terkait kendala biaya persalinan dan membantu penyelesaian dokumen pernikahannya agar ia bisa memiliki jaminan kesehatan yang layak bagi keluarganya.

Artikel ini ditulis oleh Ani Safitri peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di infocom.