Palembang merupakan kota tertua di Indonesia. Tahun ini Palembang genap berusia 1.343 tahun. Dengan usia itu Palembang merekam banyak catatan mulai dari arti nama Palembang serta sejarahnya.
Dilansir dari Website kota Palembang, wilayah Palembang dikelilingi oleh air bahkan terendam oleh air. Salah satu yang terkenal adalah Sungai Musi. Dengan demikian air telah menjadi sarana transportasi dari dulu hingga sekarang.
Kelestarian Sungai Musi dan warisan sejarah yang ada merupakan aset berharga yang harus terus dijaga agar identitas Palembang tetap hidup bagi generasi mendatang. Melestarikannya bisa dengan langkah sederhana, mulai dengan memahami arti nama Palembang serta sejarahnya.
Nama Palembang memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan kondisi geografis wilayahnya. Secara topografi, kota ini dikelilingi oleh air baik dari sungai maupun rawa. Kondisi alam inilah yang mendasari penamaan wilayah tersebut.
Dikutip dari buku Palembang Tempo Doeloe oleh Raden Muhammad Akib, kata “Palembang” berasal dari dua kata dalam bahasa Melayu, yaitu “Pa” atau “Pe” yang menunjukkan suatu tempat atau keadaan, serta “Lembang” yang berarti tanah yang rendah, lembah yang dialiri air, atau tempat yang selalu tergenang air.
Oleh karena itu, Palembang berarti tempat yang selalu digenangi air atau dataran rendah yang dipenuhi rawa. Penamaan ini sangat akurat karena sejak dahulu kala, penduduk Palembang terbiasa hidup di atas air seperti pemukiman terapung atau rumah rakit di sepanjang aliran sungai.
Sejarah Palembang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Kerajaan Sriwijaya, kekaisaran terbesar yang pernah ada di Nusantara. Kota ini secara resmi menetapkan hari jadinya berdasarkan isi Prasasti Kedukan Bukit.
Dikutip dari buku Sejarah Daerah Sumatera Selatan karya tim penulis Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 683 Masehi menyebutkan tentang pembentukan sebuah wanua atau kota.
Dalam prasasti tersebut diceritakan perjalanan suci (Siddhayatra) menggunakan perahu oleh Dapunta Hyang yang membawa 20.000 tentara. Kemenangan dan keberhasilan tersebut menjadi titik awal berdirinya pusat pemerintahan yang kemudian dikenal sebagai Palembang.
Palembang sempat mengalami masa kekosongan kekuasaan sebelum akhirnya berdiri Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-17. Pada masa kesultanan, Palembang menjadi pusat penyebaran Islam dan titik perdagangans lada dan timah di pasar internasional.
Palembang mendapatkan berbagai julukan unik. Setiap julukan mencerminkan karakter budaya, sejarah, hingga kekayaan kuliner yang dimiliki kota ini.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Julukan ini pertama kali populer pada masa kolonial Belanda. Palembang disebut sebagai “Venesia dari Timur” karena sistem tata kotanya yang didominasi oleh sungai sungai kecil yang membelah daratan.
Kondisi ini mirip dengan kota Venesia di Italia. Pada masa itu, transportasi air adalah urat nadi utama masyarakat, di mana kanal-kanal sungai berfungsi sebagai jalan raya bagi perahu-perahu penduduk.
Pempek telah dikenal sebagai kuliner khas Palembang. Dikutip dari buku Kulier Tradisional Palembang oleh Reni Azoreti, julukan ini muncul karena kuliner berbahan dasar ikan dan sagu tersebut sangat mendominasi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Keahlian mengolah hasil sungai menjadi makanan telah diwariskan turun temurun. Sehingga siapa pun yang berkunjung ke kota ini pasti akan menghubungkan dengan kuliner pempek.
Julukan Bumi Sriwijaya adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah besar Palembang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, pengaruh Sriwijaya mencakup wilayah hingga ke Thailand dan Kamboja.
Palembang juga dikenal sebagai Serambi Hadramaut karena memiliki keterkaitan sejarah dan budaya yang kuat dengan wilayah Hadramaut di Yaman. Hal ini disebabkan oleh banyaknya imigran dari Arab yang datang dan menetap di Palembang untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam.
Keberadaan kampung kampung Arab seperti Kampung Al-Munawar menjadi bukti pengaruh budaya Hadramaut dalam arsitektur dan tradisi masyarakat lokal.
Pada masa kejayaan Kesultanan Palembang, kota ini secara resmi disebut sebagai Palembang Darussalam. Kata Darussalam berasal dari bahasa Arab yang berarti “Negeri yang Damai”.
Julukan ini mencerminkan identitas kota sebagai pusat studi Islam yang terpandang di Nusantara. Dari sini melahirkan ulama ulama besar seperti Syekh Abdus Samad al-Palimbani yang karya karyanya.
Dikutip dari dokumen resmi Profil Kebudayaan Palembang yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan setempat, istilah ini menggambarkan sembilan sungai besar yang semuanya bermuara ke Sungai Musi di Palembang.
Sembilan sungai tersebut adalah Sungai Komering, Ogan, Lematang, Kelingi, Lakitan, Rawas, Rupit, Batang Hari Leko, dan Sungai Musi itu sendiri. Hal ini mempertegas posisi Palembang sebagai jantung bagi wilayah sekitarnya.
Dengan demikian, kekayaan cerita di balik nama Palembang tidak hanya menjadi catatan di buku sejarah, tetapi tetap dapat dirasakan langsung oleh siapa saja yang menginjakkan kaki di tanah ini. Inilah arti nama Palembang dan sejarahnya.
Artikel ini dibuat oleh Annisaa Syafriani, mahasiswa magang Prima PTKI Kementerian Agama







