Banjir di OKU Timur Berangsur Surut, Warga Mulai Bersih-bersih

Posted on

Banjir yang melanda 23 desa di OKU Timur, Sumatera Selatan (Sumsel) saat ini sudah mulai surut dan warga sudah mulai melakukan pembersihan. Banjir diduga akibat hujan dan meluapnya sungai di wilayah tersebut.

Berdasarkan foto yang dilihat infoSumbagsel pada hari Sabtu (10/1/2025), tampak ruas jalan masih tergenang air setinggi lutut, tak hanya itu di beberapa lokasi air juga masih merendam rumah warga. Namun air banjir tersebut sudah mulai surut sejak kemarin, dimana sudah ada beberapa desa yang warganya sudah mulai melakukan pembersihan.

Kepala Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman mengatakan hingga hari ini air sudah mulai surut, namun masih ada beberapa titik yang masih terendam banjir.

“Kondisi saat ini yang di Kecamatan Belitang 3 air sudah mulai surut, masyarakat mulai pembersihan di lingkungan rumah mereka masing-masing. Sedangkan di Kecamatan Belitang 2 masih tergenang air ketinggian bervariasi. masih ada yang terendam rumah serta jalannya,” sambungnya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD OKU Timur, Dewa Made Sutha mengatakan masih terdapat beberapa lokasi yang tergenang air.

“Ada sebagian wilayah yang sudah surut, mulai surut dan masih tergenang, mas,” katanya saat dikonfirmasi.

Sebelumnya, banjir tersebut diakibatkan tingginya intensitas hujan membuat Sungai Muara Balak tak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke permukiman warga dan lahan pertanian milik masyarakat.

Gubernur Sumsel Herman Deru yang meninjau lokasi banjir menyampaikan, ada kemungkinan aliran Sungai Muara Balak yang mengalami penyempitan di wilayah OKI.

Sungai itu disebutnya cukup panjang hingga alirannya sampai ke wilayah OKI. OKI merupakan kabupaten yang bersebelahan dengan OKU Timur.

“Kalau terjadi sumbatan, penyempitan di sana (OKI), di sini (OKU Timur) naik,” ujar Deru, Jumat (9/1/2026).

Deru menyebut, kejadian banjir besar di wilayah OKU Timur, khususnya di wilayah banjir saat ini, juga pernah terjadi pada 23 tahun lalu.

“Pernah terjadi (banjir besar) 2002, 23 tahun lalu. Tidak bisa hanya dicek di sini (penyebab banjir), ini juga harus dicek di OKI aliran sungainya. Apakah (nantinya) harus dinormalisasi atau seperti apa,” katanya.