Lima kasus influenza A (H3N2) subclade K atau ‘super flu’ di Sumatera Selatan (Sumsel), terdeteksi bulan Oktober 2025. Namun, belum diketahui penderitanya anak-anak atau orang dewasa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengatakan lima kasus super flu yang terdeteksi di Sumsel itu setelah pihaknya mendapat informasi dari RSMH. Namun, deteksi penyakit itu terjadi pada beberapa bulan lalu.
“Sudah ada surat dari biokes ke RSMH, memang ada yang positif 5 kasus bulan Oktober (2025),” ujar Ira saat dikonfirmasi, Minggu (4/1/2025).
Dia menyebut, data itu disampaikan pihak RSMH kepada Dinkes Sumsel. Namun, pihaknya belum mengetahui status kejadian itu terjadi pada anak-anak atau orang dewasa.
“Data tidak di kami. Tapi, kalau kejadiannya Oktober, menurut saya pasti sudah sembuh, karena ini sudah Januari,” katanya.
Terhadap kasus ini, Dinkes Sumsel juga telah memberikan perhatian dan melakukan kesiapsiagaan. Secara ilmiah, super flu termasuk dalam kelompok virus influenza (Influenza A atau B), seperti H5N1 atau flu burung, H1N1, dan onfluenza musiman dengan variasi genetik.
Penyakit ini memiliki risiko terhadap kesehatan masyarakat. Gejala influenza berat yang perlu diwaspadai seperti demam tinggi mendadak, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, nyeri otot hebat, lemas, dan sesak napas.
“Risiko bisa meningkat pada anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan riwayat kontak dengan unggas sakit atau mati,” jelasnya.
Beberapa upaya atau langkah antisipasi yang dilakukan Dinkes degan penguatan edukasi PHBS dan etika batuk, imbauan penggunaan masker bagi masyarakat yang sakit, dan peningkatan kewaspadaan.
Kemudian penguatan surveilans ILI (Influenza Like Illness) dan SARI, kewaspadaan dini terhadap kasus influenza berat, dan pelaporan berjenjang sesuai mekanisme. Koordinasi lintas sektor, denga peternakan terkait zoonosis, dan pemantauan kasus unggas sakit atau mati secara terpadu.







